A.Motivasi perilaku manusia
Motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Tiga elemen utama dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan ketekunan.
Dalam hubungan antara motivasi dan intensitas, intensitas terkait dengan dengan seberapa giat seseorang berusaha, tetapi intensitas tinggi tidak menghasilkan prestasi kerja yang memuaskan kecuali upaya tersebut dikaitkan dengan arah yang menguntungkan organisasi. Sebaliknya elemen yang terakhir, ketekunan, merupakan ukuran mengenai berapa lama seseorang dapat mempertahankan usahanya.
•Motivasi secara umum
1.Teori kebutuhan
Teori motivasi yang paling terkenal adalah hierarki teori kebutuhan milik Abraham Maslow. Ia membuat hipotesis bahwa dalam setiap diri manusia terdapat hierarki dari lima kebutuhan, yaitu fisiologis (rasa lapar, haus, seksual, dan kebutuhan fisik lainnya), rasa aman (rasa ingin dilindungi dari bahaya fisik dan emosional), sosial (rasa kasih sayang, kepemilikan, penerimaan, dan persahabatan), penghargaan (faktor penghargaan internal dan eksternal), dan aktualisasi diri (pertumbuhan, pencapaian potensi seseorang, dan pemenuhan diri sendiri.
Maslow memisahkan lima kebutuhan ke dalam urutan-urutan. Kebutuhan fisiologis dan rasa aman dideskripsikan sebagai kebutuhan tingkat bawah sedangkan kebutuhan sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri sebagai kebutuhan tingkat atas. Perbedaan antara kedua tingkat tersebut adalah dasar pemikiran bahwa kebutuhan tingkat atas dipenuhi secara internal sementara kebutuhan tingkat rendah secara dominan dipenuhi secara eksternal.
Teori kebutuhan Maslow telah menerima pengakuan luas di antara manajer pelaksana karena teori ini logis secara intuitif. Namun, penelitian tidak memperkuat teori ini dan Maslow tidak memberikan bukti empiris dan beberapa penelitian yang berusaha mengesahkan teori ini tidak menemukan pendukung yang kuat
2.Teori X dan teori Y
Douglas McGregor menemukan teori X dan teori Y setelah mengkaji cara para manajer berhubungan dengan para karyawan. Kesimpulan yang didapatkan adalah pandangan manajer mengenai sifat manusia didasarkan atas beberapa kelompok asumsi tertentu dan bahwa mereka cenderung membentuk perilaku mereka terhadap karyawan berdasarkan asumsi-asumsi tersebut.
Ada empat asumsi yang dimiliki manajer dalam teori X.
•Karyawan pada dasarnya tidak menyukai pekerjaan dan sebisa mungkin berusaha untuk menghindarinya.
•Karena karyawan tidak menyukai pekerjaan, mereka harus dipakai, dikendalikan, atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan.
•Karyawan akan mengindari tanggung jawab dan mencari perintah formal, di mana ini adalah asumsi ketiga.
•Sebagian karyawan menempatkan keamanan di atas semua faktor lain terkait pekerjaan dan menunjukkan sedikit ambisi.
Bertentangan dengan pandangan-pandangan negatif mengenai sifat manusia dalam teori X, ada pula empat asumsi positif yang disebutkan dalam teori Y.
•Karyawan menganggap kerja sebagai hal yang menyenangkan, seperti halnya istirahat atau bermain.
•Karyawan akan berlatih mengendalikan diri dan emosi untuk mencapai berbagai tujuan.
•Karyawan bersedia belajar untuk menerima, mencari, dan bertanggungjawab. Karyawan mampu membuat berbagai keputusan inovatif yang diedarkan ke seluruh populasi, dan bukan hanya bagi mereka yang menduduki posisi manajemen.
3.Teori Penguatan dan Modifikasi Perilaku
Berbagai teori atau model motivasi yang telah dibahas di muka dapat digolongkan sebagai model kognitif motivasi karena didasarkan pada kebutuhan seseorang berdasarkan persepsi orang yang bersangkutan berarti sifatnya sangat subyektif. Perilakunya pun ditentukan oleh persepsi tersebut.
Padahal dalam kehidupan organisasional disadari dan diakui bahwa kehendak seseorang ditentukan pula oleh berbagai konsekwensi ekstrernal dari perilaku dan tindakannya. Artinya, dari berbagai faktor di luar diri seseorang turut berperan sebagai penentu dan pengubah perilaku. Dalam hal ini berlakulah apaya yang dikenal dengan “hukum pengaruh” yang menyatakan bahwa manusia cenderung untuk mengulangi perilaku yang mempunyai konsekwensi yang menguntungkan dirinya dan mengelakkan perilaku yang mengibatkan perilaku yang mengakibatkan timbulnya konsekwensi yang merugikan.
Contoh sebaliknya ialah seorang pegawai yang datang terlambat berulangkali mendapat teguran dari atasannya, mungkin disertai ancaman akan dikenakan sanksi indisipliner. Teguran dan kemungkinan dikenakan sanksi sebagi konsekwensi negatif perilaku pegawai tersebut berakibat pada modifikasi perilakunya, yaitu datang tepat pada waktunya di tempat tugas. Penting untuk diperhatikan bahwa agar cara-cara yang digunakan untuk modifikasi perilaku tetap memperhitungkan harkat dan martabat manusia yang harus selalu diakui dan dihormati, cara-cara tersebut ditempuh dengan “gaya” yang manusiawi pula.
4.Teori Kaitan Imbalan dengan Prestasi.
Bertitik tolak dari pandangan bahwa tidak ada satu model motivasi yang sempurna, dalam arti masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan, para ilmuwan terus menerus berusaha mencari dan menemukan sistem motivasi yang terbaik, dalam arti menggabung berbagai kelebihan model-model tersebut menjadi satu model. Tampaknya terdapat kesepakan di kalangan para pakar bahwa model tersebut ialah apa yang tercakup dalam teori yang mengaitkan imbalan dengan prestasi seseorang individu .
Menurut model ini, motivasi seorang individu sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Termasuk pada faktor internal adalah :
a)persepsi seseorang mengenai diri sendiri
b)harga diri
c)harapan pribadi
d)kebutuhaan
e)keinginan
f)kepuasan kerja
g)prestasi kerja yang dihasilkan.
Sedangkan faktor eksternal mempengaruhi motivasi seseorang, antara lain ialah :
a)jenis dan sifat pekerjaan
b)kelompok kerja dimana seseorang bergabung
c)organisasi tempat bekerja
d)situasi lingkungan pada umumnya
e)sistem imbalan yang berlaku dan cara penerapannya.
•Motivasi konsumen secara khusus
Konsep motivasi konsumen secara khusus merupakan kebutuhan konsumen yang sangat penting bagi konsumen itu sendiri. Dalam hal ini pemasar akan mengerti apa yang sedang di inginkan oleh konsumen saat itu sehingga pemasar memperkenalkan produk tertentu dengan memperkenalkan barang-barang yang tersebut sehingga konsumen termotivasi oleh barang tersebut dan membelinya.
B.Klasifikasi kebutuhan dan strategi pemasaran
Akan memahami bagaimana kebutuhan seorang konsumen akan terpenuhi serta mengetahui bagaimana strategi pemasaran yang baik untuk memancing konsumen. Banyak hal yang dilakukan para peneliti dalam menentukan kebutuhan konsumen, namun sekarang mereka merasa akan lebih berguna bila di klasifikasikan kebutuhan kedalam kategori mendasar yang luas dan paling membantu dalam mengerti perilaku konsumen.
Ringkasan klasifikasi kebutuhan konsumen
1.Fisiologis : dasar-dasar kelangsungan hidup
2.Keamanan : berkenan dengan kelangsungan hidup fisik dan keamanan
3.Afiliasi dan Pemilikan : kebutuhan untuk di terima oleh orang lain, menjadi penting bagi mereka
4.Prestasi : keinginan dasar akan keberhasilan dalam mememnuhi kebutuhan pribadi
5.Kekuasaan : keinginan untuk mendapatkan kendali atas nasib sendiri dan juga nasib orang lain
6.Ekspresi diri : kebutuhan untuk mengembangkan kebebasan dalam mengekspresikan diri dan di pandang penting oleh orang lain
7.Urutan dan Pengertian : keinginan untuk mencapai aktualisasi diri melalui pengetahuan, pengertian, sistematis, dan pembangunan system nilai
8.Pencarian Variasi : pemeliharaan tingkat kegairahan fisiologis dan stimulasi yang dipilih kerap diekspresikan sebagai pencarian variasi
9.Atribusi Sebab-Akibat : estimasi atau atribusi sebab-akibat dari kejadian atau tindakan
Kesembilan hal tersebut dipengaruhi oleh teori Maslow mengenai tingkat kebutuhan manusia, namun menurut George Katona seorang peneliti perilaku konsumen menjelaskan bahwa prapotensi benar-benar mempengaruhi perilaku konsumen hingga jangkauan di mana keinginan yang sebelumnya diabaikan menampilkan diri paling sering sesudah pembelian memenuhi kebutuhan yang utama. Tindakan sesorang juga ditentukan oleh dorongan seseorang dalam menentukan sesuatu hal, dalam hal ini pembelian akan suatu barang.
Adapun stretegi pemasaran yang baik untuk menarik konsumen ialah menetapkan dan mengukuhkan prinsip bahwa pemasar harus menerima kebutuhan sebagaimana adanya. Kebutuhan tidak mungkin diciptakan atau di modifikasi oleh jenis upaya pemasar apapun, untuk itu tujannya selalu menempatkan produk atau jasa dalam pasar target sebagai alternative yang baik untuk pemenuhan kebutuhan. Selain hal tersebut ada beberapa cara tambahan yang dapat digunakan untuk menajamkan dampak pemasaran, yaitu :
•Menafsirkan penelitian dengan hati-hati
Orang memiliki cenderungan untuk memberikan jawaban yang dapat di terima secara social terhadap pertanyaan yang menyelidiki motivasi mereka.
•Bersiagalah terhadap kemungkinan konflik motivasional
Kurt Lewin mengajukan teori bahwa beberapa kekuatan menghasilkan gerakan kearah objek tujuan (mengacu pada pendekatan), sementara yang lain menimbulkan penginderaan.
•Bersiap untuk memberikan alasan yang dapat diterima secara social untuk pilihan
Motif pembelian yang paling penting mungkin berupa motif yang karena pelbagai alasan tidak ingin diakui secara sadar oleh konsumen. Bila demikina halnya, mungkin bijaksana untuk memberikan seperangkat alasan yang dapat di terima.
Contohnya : seorang sales mobil menjelaskan beberapa kelebihan dari produk yang ia tawarkan kepada calon pembeli.
Dari beberapa strategi tambahan yang terpenting ialah bagaimana motivasi ini sebagaimana adanya dan menemukan cara untuk menyajikan produk atau jasa sebagai sarana yang abash dari pemuasan motif.
Daftar Pustaka
Sudrajat, Akhmad. 2008. Teori-teori motivasi. http://www.psb- psma.org/content/blog/teori-teori-motivasi
Anonym. 2010. Motivasi. http://id.wikipedia.org/wiki/Motivasi 6 Oktober 2010.
Engel, J F; Roger D B; Paul, W M. 1995. Perilaku konsumen jilid I. Jakarta : Binarupa Aksara.
Tampilkan postingan dengan label psiko konsumen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label psiko konsumen. Tampilkan semua postingan
Selasa, 23 November 2010
PENGARUH PENGETAHUAN TERHADAP PERILAKU KONSUMEN
PENGARUH PENGETAHUAN TERHADAP PERILAKU KONSUMEN
A.Pengetahuan dan evaluasi produk
Sebelum konsumen membeli suatu produk, konsumen harus mengetahui dahulu keunggulan, kelebihan serta kebaikan dari produk tersebut bila konsumen membeli. Pengenalan akan suatu invoasi baru dari sebuah pruduk kadang memerlukan upaya yang besar agar konsumen mengetahui produk tersebut selain produk yang sudah ada di pasaran.
Yang lebih mendasari, pemasar mutlak perlu memeriksa apa yang sudah diketahui oleh konsumen karena pengetahuan ini adalah faktor penentu utama dari perilaku konsumen. Apa yang konsumen beli , dimana mereka membeli, dan kapan wmereka akan membeli akan bergantung pada pengetahuan yang relevan mengenai keputusan dalam membeli.
Contoh kasus seseorang biasa menggunakan produk sariayu untuk tat arias wajah nya, lalu ia di tawari produk Avon yang sama kegunaan serta hasil dari tata rias tersebut, konsumen akan membeli produk yang terbaik bagi dirinya walaupun ada produk lain yang baru keluar serta memberikan hasil yang sama serta harga yang tidak terlalu beda.
B.Pengetahuan dan persepsi
Persepsi pada suatu produk ialah pengetahuan konsumen mengenai suatu barang yang konsumen beli, misalnya khasiat dari suatu barang atau produk yang subyek gunakan. Misalnya konsumen terlalu mempercayakan kesehatannya pada suatu produk yang dianggap berkhasiat dalam menyembuhkan masuk anginnya saat itu, namun ada orang juga yang tidak terlalu percaya terhadap khasiat dari produk tersebut.
C.Isi pengetahuan: pengetahuan produk, pembelian dan pemakaian
Isi pengetahuan merupakan pengetahuan konsumen akan suatu produk atau barang yang dipasarkan oleh pemasar akan diminati oleh pembeli atau tidak sehingga pembeli harus teliti terhadap suatu barang yang akan di tawarkan. Kebanyakan dari konsumen hanya melibatkan fakta sementara dalam melihat suatu produk tanpa memikirkan bagaimana kegunaan dari suatu produk tersebut karena pengetahuan yang didapatkan hanya sepitas atau sebatas penglihatan saat itu tanpa menyadari apakan barang tersebut akan saya butuhkan atau tidak.
Pengetahuan konsumen di bagi dalam tiga bidang umum, yaitu pengetahuan produk, pengetahuan pembelian, serta pengetahuan pemakai. Adapun penjelasannya yaitu:
1.Pengetahuan produk
Pengetahuan produk adalah pengetahuan konsumen akan suatu produk yang akan ia beli, sehingga informasi yang didapat mengenai suatu produk akan bermacam-macam. Pengetahuan produk meliputi:
•Kesadaran akan kategori produk
•Terminology akan sebuah produk
•Atribut atau cirri produk
•Kepercayaan tentang kategori produk secara umum
2.Pengetahuan pembelian
Pengetahuan pembelian meliputi bermacam potongan informasi yang dimiliki konsumen yang berhubungan erat dengan pemrolehan produk. Informasi meliputi dimana produk ini dapat dibeli dan kapan pembelian harus terjadi. Misalnya, saat suaru produk mobil keluaran terbaru akan diluncurkan, pembeli sudah memesan produk tersebut sebelum barang tersebut di lempar ke pasaran karena mobil tersebut hanya di jual beberapa buah saja atau yang lebih dikenal dengan limited edition.
3.Pengetahuan pemakai
Pengetahuan pemakan merupakan gambaran dari ketiga kategori embelian konsumen. Pengetahuan ini mencakup pengetahuan yang tersedia di dalam ingatan mengenai bagaimana suatu produk dapat digunakan dan apa yang di perlukan agar benar-benar menggunakan produk tersebut. Misalnya konsumen mengetahui apa kegunaan dari sebuah microwave tapi tidak mengetahui cara menggunakannya.
Daftar Pustaka
Engel, J F; Roger D B; Paul, W M. 1995. Perilaku konsumen jilid I. Jakarta : Binarupa Aksara.
A.Pengetahuan dan evaluasi produk
Sebelum konsumen membeli suatu produk, konsumen harus mengetahui dahulu keunggulan, kelebihan serta kebaikan dari produk tersebut bila konsumen membeli. Pengenalan akan suatu invoasi baru dari sebuah pruduk kadang memerlukan upaya yang besar agar konsumen mengetahui produk tersebut selain produk yang sudah ada di pasaran.
Yang lebih mendasari, pemasar mutlak perlu memeriksa apa yang sudah diketahui oleh konsumen karena pengetahuan ini adalah faktor penentu utama dari perilaku konsumen. Apa yang konsumen beli , dimana mereka membeli, dan kapan wmereka akan membeli akan bergantung pada pengetahuan yang relevan mengenai keputusan dalam membeli.
Contoh kasus seseorang biasa menggunakan produk sariayu untuk tat arias wajah nya, lalu ia di tawari produk Avon yang sama kegunaan serta hasil dari tata rias tersebut, konsumen akan membeli produk yang terbaik bagi dirinya walaupun ada produk lain yang baru keluar serta memberikan hasil yang sama serta harga yang tidak terlalu beda.
B.Pengetahuan dan persepsi
Persepsi pada suatu produk ialah pengetahuan konsumen mengenai suatu barang yang konsumen beli, misalnya khasiat dari suatu barang atau produk yang subyek gunakan. Misalnya konsumen terlalu mempercayakan kesehatannya pada suatu produk yang dianggap berkhasiat dalam menyembuhkan masuk anginnya saat itu, namun ada orang juga yang tidak terlalu percaya terhadap khasiat dari produk tersebut.
C.Isi pengetahuan: pengetahuan produk, pembelian dan pemakaian
Isi pengetahuan merupakan pengetahuan konsumen akan suatu produk atau barang yang dipasarkan oleh pemasar akan diminati oleh pembeli atau tidak sehingga pembeli harus teliti terhadap suatu barang yang akan di tawarkan. Kebanyakan dari konsumen hanya melibatkan fakta sementara dalam melihat suatu produk tanpa memikirkan bagaimana kegunaan dari suatu produk tersebut karena pengetahuan yang didapatkan hanya sepitas atau sebatas penglihatan saat itu tanpa menyadari apakan barang tersebut akan saya butuhkan atau tidak.
Pengetahuan konsumen di bagi dalam tiga bidang umum, yaitu pengetahuan produk, pengetahuan pembelian, serta pengetahuan pemakai. Adapun penjelasannya yaitu:
1.Pengetahuan produk
Pengetahuan produk adalah pengetahuan konsumen akan suatu produk yang akan ia beli, sehingga informasi yang didapat mengenai suatu produk akan bermacam-macam. Pengetahuan produk meliputi:
•Kesadaran akan kategori produk
•Terminology akan sebuah produk
•Atribut atau cirri produk
•Kepercayaan tentang kategori produk secara umum
2.Pengetahuan pembelian
Pengetahuan pembelian meliputi bermacam potongan informasi yang dimiliki konsumen yang berhubungan erat dengan pemrolehan produk. Informasi meliputi dimana produk ini dapat dibeli dan kapan pembelian harus terjadi. Misalnya, saat suaru produk mobil keluaran terbaru akan diluncurkan, pembeli sudah memesan produk tersebut sebelum barang tersebut di lempar ke pasaran karena mobil tersebut hanya di jual beberapa buah saja atau yang lebih dikenal dengan limited edition.
3.Pengetahuan pemakai
Pengetahuan pemakan merupakan gambaran dari ketiga kategori embelian konsumen. Pengetahuan ini mencakup pengetahuan yang tersedia di dalam ingatan mengenai bagaimana suatu produk dapat digunakan dan apa yang di perlukan agar benar-benar menggunakan produk tersebut. Misalnya konsumen mengetahui apa kegunaan dari sebuah microwave tapi tidak mengetahui cara menggunakannya.
Daftar Pustaka
Engel, J F; Roger D B; Paul, W M. 1995. Perilaku konsumen jilid I. Jakarta : Binarupa Aksara.
Rabu, 17 November 2010
PERBEDAAN INDIVIDU
PERBEDAAN INDIVIDU
A. Konsumen dan Proses Pertukaran
Proses pertukaran yang terjadi dalam pemasaran melibatkan pertukaran sesuatu yang bernilai, yang diberikan oleh pelanggan untuk sesuatu yang bernilai yang di terima dari penjual.
Sumber daya lain yang di gunakan seperti energi, mungkin digunakan untuk berbelanja dan konsumsi, tetapi uang, waktu dan perhatian merupakan yang utama.
Contohnya dalam pasar tradisional seorang konsumen menukarkan uangnya dengan barang yang akan di butuhkan konsumen saat itu. Dalam sebuah organisasi, konsumen mungkin menukar waktu mereka sebagai sukarelawan, tenaga, pikiran atau bahkan uang untuk operasional organisasi tersebut.
Sebenarnya perilaku konsumen tersebut ditentukan, dipaksa oleh sumber daya yang tersedia untuk di tukar oleh barang dan jasa yang ingin dijual.
B. Sumber Daya Ekonomi Konsumen
Keputusan konsumen sehubungan dengan produk dan merek sangat di pengaruhi oleh jumlah sumber daya ekonomi yang mereka punyai atau mungkin yang mereka punyai pada masa datang. Untuk menjadi seorang konsumen di perlukan uang sebagai alat tukar.
Dalam era yang lebih awal di kenal barter, yaitu pertukaran barang yang lazim dilakukan. Barter masih digunakan dalam masyarakat kurang maju, contohnya saat ini barter masih digunakan di suku baduy dalam, dalam membarter sesuatu masyarakat baduy menukar barang yang mereka punya dengan barang yang mereka ingini, misalnya seseorang ingin menukar beras yang dimiliki dengan ayam atau kambing, mereka sudah mempunyai ukuran tertentu akan suatu barang yang di ingini.
Dalam masa sekarang di kawasan urban, masyarakat menggunakan sumber daya ekonominya, seperti pendapatan serta kekayaan itu merupakan variabel pertama yang harus dianalisis didalam perilaku konsumen dalam pembelajaan untuk kategori makanan, pakaian, perumahan dan lain-lain (pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan sebagainya).
C. Sumber Daya Temporal
Waktu menjadi hal yang sangat penting dalam memahami perilaku konsumen karena banyak dari konsumen yang menghabiskan waktunya tiap minggu untuk bekerja rata- rata 8 jam setiap harinya sehingga mereka kahilangan waktu hanya sekedar untuk mengosongkan waktu untuk sekedar beristirahat. Walaupun demikina perilaku tersebut berhubungan dengan bagaimana orang menggunakan anggaran waktu mereka, kebanyakan dari mereka waktu dihabiskan untuk bekerja, tidur dan kewajiban lain. Namun ada bagian tertentu untuk kegiatan sangat pribadi yang disebut waktu senggang yang mencerminkan baik kepribadian maupun gaya hidup seseorang.
Contohnya setelah lelah bekerja dari senin sampai jumat seorang pekerja membutuhkan penyekgaran di akhir minggu, entah berekreasi atau melakukan hal yang membuat mereka nyaman serta dapat melepaskan penat selama seminggu bekerja.
D. Sumber Daya Koqnitif
Sumber daya kognitif menggambarkan kapasitas mental yang tersedia untuk menjalankan pelbagai kegiatan dalam pengolahan informasi. Ukuran kapasitas kerap digambarkan dalam instilah keratin, yang mewakili suatu pengelompokan atau kombinasi informasi yang dapat diolah sebagai suatu unit.
Kapasitas kognitif dikenal sebagai perhatian, terdiri dari dua dimensi: arahan yang menggambarkan focus terhadap perhatian , serta intensitas yang mengacu pada jumlah kapasitas yang difokuskan pada arahan tertentu. Misalnya, saat melihat iklan produk kendaraan, konsumen memilih produk mana yang disukai mulai dari merek, jenis, serta hal-hal yang mendetail dari produk tersebut setelah mnemukan hal yang di ingini mereka segera membeli produk tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Engel, J F; Roger D B; Paul, W M. 1995. Perilaku konsumen jilid I. Jakarta : Binarupa Aksara.
A. Konsumen dan Proses Pertukaran
Proses pertukaran yang terjadi dalam pemasaran melibatkan pertukaran sesuatu yang bernilai, yang diberikan oleh pelanggan untuk sesuatu yang bernilai yang di terima dari penjual.
Sumber daya lain yang di gunakan seperti energi, mungkin digunakan untuk berbelanja dan konsumsi, tetapi uang, waktu dan perhatian merupakan yang utama.
Contohnya dalam pasar tradisional seorang konsumen menukarkan uangnya dengan barang yang akan di butuhkan konsumen saat itu. Dalam sebuah organisasi, konsumen mungkin menukar waktu mereka sebagai sukarelawan, tenaga, pikiran atau bahkan uang untuk operasional organisasi tersebut.
Sebenarnya perilaku konsumen tersebut ditentukan, dipaksa oleh sumber daya yang tersedia untuk di tukar oleh barang dan jasa yang ingin dijual.
B. Sumber Daya Ekonomi Konsumen
Keputusan konsumen sehubungan dengan produk dan merek sangat di pengaruhi oleh jumlah sumber daya ekonomi yang mereka punyai atau mungkin yang mereka punyai pada masa datang. Untuk menjadi seorang konsumen di perlukan uang sebagai alat tukar.
Dalam era yang lebih awal di kenal barter, yaitu pertukaran barang yang lazim dilakukan. Barter masih digunakan dalam masyarakat kurang maju, contohnya saat ini barter masih digunakan di suku baduy dalam, dalam membarter sesuatu masyarakat baduy menukar barang yang mereka punya dengan barang yang mereka ingini, misalnya seseorang ingin menukar beras yang dimiliki dengan ayam atau kambing, mereka sudah mempunyai ukuran tertentu akan suatu barang yang di ingini.
Dalam masa sekarang di kawasan urban, masyarakat menggunakan sumber daya ekonominya, seperti pendapatan serta kekayaan itu merupakan variabel pertama yang harus dianalisis didalam perilaku konsumen dalam pembelajaan untuk kategori makanan, pakaian, perumahan dan lain-lain (pendidikan, kesehatan, rekreasi, dan sebagainya).
C. Sumber Daya Temporal
Waktu menjadi hal yang sangat penting dalam memahami perilaku konsumen karena banyak dari konsumen yang menghabiskan waktunya tiap minggu untuk bekerja rata- rata 8 jam setiap harinya sehingga mereka kahilangan waktu hanya sekedar untuk mengosongkan waktu untuk sekedar beristirahat. Walaupun demikina perilaku tersebut berhubungan dengan bagaimana orang menggunakan anggaran waktu mereka, kebanyakan dari mereka waktu dihabiskan untuk bekerja, tidur dan kewajiban lain. Namun ada bagian tertentu untuk kegiatan sangat pribadi yang disebut waktu senggang yang mencerminkan baik kepribadian maupun gaya hidup seseorang.
Contohnya setelah lelah bekerja dari senin sampai jumat seorang pekerja membutuhkan penyekgaran di akhir minggu, entah berekreasi atau melakukan hal yang membuat mereka nyaman serta dapat melepaskan penat selama seminggu bekerja.
D. Sumber Daya Koqnitif
Sumber daya kognitif menggambarkan kapasitas mental yang tersedia untuk menjalankan pelbagai kegiatan dalam pengolahan informasi. Ukuran kapasitas kerap digambarkan dalam instilah keratin, yang mewakili suatu pengelompokan atau kombinasi informasi yang dapat diolah sebagai suatu unit.
Kapasitas kognitif dikenal sebagai perhatian, terdiri dari dua dimensi: arahan yang menggambarkan focus terhadap perhatian , serta intensitas yang mengacu pada jumlah kapasitas yang difokuskan pada arahan tertentu. Misalnya, saat melihat iklan produk kendaraan, konsumen memilih produk mana yang disukai mulai dari merek, jenis, serta hal-hal yang mendetail dari produk tersebut setelah mnemukan hal yang di ingini mereka segera membeli produk tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Engel, J F; Roger D B; Paul, W M. 1995. Perilaku konsumen jilid I. Jakarta : Binarupa Aksara.
Senin, 01 November 2010
Pengaruh situasi konsumen
1.Jenis- jenis situasi konsumen : komunikasi, pembelian, pemakaian
Memahami komunikasi, pengaruh iklan pada pembelian dan memakai suatu produk.
Situasi komunikasi dapat di definisikan sebagai latar dimana konsumen dihadapkan kepada komunikasi pribadi maupun nonpribadi. Komunikasi pribadi mencakup percakapan yang mungkin diadakan konsumen dengan orang lain, sedangkan komunikasi non pribadi melibatkan program publikasi, seperti iklan.
Pengaruh iklan dapat membuat seseorang untuk bisa tertarik dalam membeli produk yang ditawarkan karena tertarik dengan pemaparan yang di tawarkan oleh iklan tersebut, sehingga bisa membeli serta menggunakan barang tersebut.
Contoh : membeli barang saat ada diskon, setelah melihat iklan di televisi maupun d Koran dengan potongan harga hingga 70%.
2.Interaksi orang dengan situasi
Memahami serta menganalisis pengaruh situasi dalam proses pembelian barang.
Banyak dari konsumen yang dipengaruhi oleh variasi dari situasi lain yang sesuai denga keadaan mereka saat itu, belum tentu saat orang lain menggunakan produk A saat ia berjemur di pantai tapi bisa saja orang lain menggunakan produk A sebagai lotion untuk ke kantor atau kemanapun ia pergi tidak harus saat berjemur saja.
Jadi penggunaan produk tertentu tidak hanya pada satu situasi saja tapi bisa untuk situasi lain untuk orang lain.
3.Pengaruh situasi yang tidak terduga
Memahami perilaku membeli dalam situasi yang tak terduga.
Bagaimana seseorang mengerti akan potensi dari pengaruh situasi yang tak terduga yang dapat merusak keakuratan ramalan yang didasarkan pada maksud pembelian, yang tadinya ia tidak mau membeli barang tapi karena susatu hal jadi membeli barang tersebut.
Contoh : saat jalan ke pusat perbelanjaan, ayah melihat ingin membeli baju baru padahal awalnya mereka ke pusat perbelanjaan hanya untuk belanja bulanan
DAFTAR PUSTAKA
Engel, J F; Roger D B; Paul, W M. 1995. Perilaku konsumen jilid I. Jakarta : Binarupa Aksara.
Memahami komunikasi, pengaruh iklan pada pembelian dan memakai suatu produk.
Situasi komunikasi dapat di definisikan sebagai latar dimana konsumen dihadapkan kepada komunikasi pribadi maupun nonpribadi. Komunikasi pribadi mencakup percakapan yang mungkin diadakan konsumen dengan orang lain, sedangkan komunikasi non pribadi melibatkan program publikasi, seperti iklan.
Pengaruh iklan dapat membuat seseorang untuk bisa tertarik dalam membeli produk yang ditawarkan karena tertarik dengan pemaparan yang di tawarkan oleh iklan tersebut, sehingga bisa membeli serta menggunakan barang tersebut.
Contoh : membeli barang saat ada diskon, setelah melihat iklan di televisi maupun d Koran dengan potongan harga hingga 70%.
2.Interaksi orang dengan situasi
Memahami serta menganalisis pengaruh situasi dalam proses pembelian barang.
Banyak dari konsumen yang dipengaruhi oleh variasi dari situasi lain yang sesuai denga keadaan mereka saat itu, belum tentu saat orang lain menggunakan produk A saat ia berjemur di pantai tapi bisa saja orang lain menggunakan produk A sebagai lotion untuk ke kantor atau kemanapun ia pergi tidak harus saat berjemur saja.
Jadi penggunaan produk tertentu tidak hanya pada satu situasi saja tapi bisa untuk situasi lain untuk orang lain.
3.Pengaruh situasi yang tidak terduga
Memahami perilaku membeli dalam situasi yang tak terduga.
Bagaimana seseorang mengerti akan potensi dari pengaruh situasi yang tak terduga yang dapat merusak keakuratan ramalan yang didasarkan pada maksud pembelian, yang tadinya ia tidak mau membeli barang tapi karena susatu hal jadi membeli barang tersebut.
Contoh : saat jalan ke pusat perbelanjaan, ayah melihat ingin membeli baju baru padahal awalnya mereka ke pusat perbelanjaan hanya untuk belanja bulanan
DAFTAR PUSTAKA
Engel, J F; Roger D B; Paul, W M. 1995. Perilaku konsumen jilid I. Jakarta : Binarupa Aksara.
Senin, 25 Oktober 2010
Pengaruh Pribadi, Keluarga, dan Rumah Tangga
1.Pengaruh Pribadi dan Kelompok Acuan Sebagai Strategi Pemasaran
Memahami dinamika pengaruh pribadi dan kelompok dalam strategi pemasaran
a.Pengaruh pribadi : Komunikasi secara lisan yang digunakan dalam memikat konsumen untuk bisa membeli suatu barang tertentu yang di ceritakan oleh yang yang sebelumnya pernah menggunakan barang tersebut dan memdapatkan hasil yang baik. Serta variabel penentu yang penting didalam pengaruh pribadi adalah keterlibatan, ada beberapa hal yang memepengaruhinya, yaitu keterlibatan produk dan pengaruh social berhubungan dalam dua cara.
•Pertama : keterlibatan meningkat bila pilihan yang dibuat mempengaruhi status social seseorang dan penerimanya.
•Kedua : keterlibatan yang tinggi kerap mencetuskan pencarian informasi dari orang dapat dipercaya.
Maka dari itu pengaruh pribadi merupakan sebab sekaligus hasil dari keterlibatan yang tinggi dan jarang menjadi sangat tinggi bila keterlibatannya rendah.
b.Pengaruh kelompok : orang atau sekelompok orang yang mempengaruhi secara bermakna mengenai perilaku individu. Dapat diartikan juga bahwa perilaku seseorang yang dipengaruhi oleh perilaku kelompoknya.
Dari kedua penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku pribadi seseorang dapat di pengaruhi oleh perilaku kelompoknya agar tidak dianggap beda dalam kelompoknya sendiri.
Contoh kasus: Dalam mengikuti perkembangan jaman yang semakin modern seorang remaja ikut-ikutan temannya yang membuat account di sebuat jejaring sosial agar bisa di anggap sebagai anak gaul, padahal si remaja tersebut belum tahu apa pentingnya dari sebuah jejaring sosial.
2.Model Proses Pengaruh Pribadi, Pemberi Pengaruh dan Implikasi strategi Pemasaran dari pengaruh Pribadi.
•Model proses pengaruh pribadi menurut teori bekerja mempunyai 3 cara berbeda, yaitu :
a.Teori Menetes
Pengaruh pribadi menyatakan bahwa kelas bawah kerap berusaha menyamai perilaku rekan imbangan mereka dari kelas yang lebih tinggi, khususnya dalam bidang mode dan gaya yang baru. Jenis pengaruh ini lebih lazim terjadi diantara rekan sebaya, yang dikenal juga sebagai pengaruh homofilius, suatu istilah yang mengacu pada pengiriman informasi diantara orang yang sama dalam kelas social, usia, pendidikan, dan karakteristik demografik. Contohnya, mode baju terbaru masa kini banyak di ikuti remaja yang baru gede, BBM, jejaring sosial.
b.Arus Dua Langkah
Pengamatan yang dilakukan oleh Lazarsfeld dan para koleganya mengatakan bahwa gagasan baru dan pengaruh lain mengalir dari media massa menuju pemberi pengaruh, yang pada gilirannya meneruskan secara lisan kepada orang lain yang lebih pasif dalam mencari informasi dan jauh lebih sedikit terpapar pada media massa dan sumber lain. Namun kini banyak tidak sesuai dengan kenyataan pada masa sekarang, karena media massa memiliki dampak yang lebih besar dan luas, serta khalayak ramai sekarang sudah tidak sepasif dulu. Komunikasi lisan sama bila tidak lebih sering diprakarsai oleh penerima yang dapat dipercayai. Contoh : gosip.
c.Interaksi Banyak Tahap
Penyebaran inovasi sebagian besar membatalkan keabsahan model arus dua langkah dengan memperlihatkan bahwa baik pemberi maupun pencari dipengaruhi oleh media massa. Sesungguhnya media massa dapat memotivasi pencari untuk merancang seseorang untuk mendapatkan sesuatu. Contoh : iklan di televisi maupun di radio.
•Pemberi pengaruh, mempunya beberapa generalisasi, yaitu
a.Metode penelitian, ada 3 cara dasar untuk mengidentifikasikan seseorang yang memberi pengaruh:
Metode sosiometrik : orang diminta untuk mengidentifikasi orang lain yang mereka cari untuk mendapatkan informasi dalam pengambilan jenis keputusan tertentu
Metode informan- kunci : orang yang berpengatahuan digunakan untuk mengidentifikasi pemberi pengaruh didalam suatu system social.
Metode penunjukan diri : orang diminta mengevalusai sejauh mana mereka dicari untuk dimintai informasinya.
Dari ketiga dasar ini, biasanya yang banyak digunakan adalah dengan metode penunjukan diri karena memiliki keabsahan yang mudah diterima, sasarannya adalah untuk mengidentifikasi apakah kategori orang tertentu berfungsi sebagai pemberi pengaruh dan tidak menunjuk individu itu sendiri menurut nama.
b.Karakteristik adalah penerimaan seseorang antara satu sama lain di pengaruhi oleh gaya demografik, kegiatan social, sifat umum, kepribadian, gaya hidup, dan keterkaitan dengan produk.
c.Motivasi dalam hal ini diartikan sebagai kepuasan seseorang dari suatu produk sehingga orang tertarik untuk membeli produk tersebut.
•Implikasi Strategi Pemasaran Dari Pengaruh Pribadi
Pernyataan lisan merupakan hal yang positif dalam segi pemasaran suatu produk. Ada beberapa cara yang baik dalam hal memasarkan sesuatu, yaitu
a. Memonitor isi pernyataan lisan : memonitor untuk mengetahui apakah pesan yang disampaikan dalam sebuah iklan benar- benar di mengerti olah si penerima sehingga tidak menimbulkan dampak yang salah atau salah persepsi.
b.Kepercayaan tunggal akan komunikasi lisan : percaya hanya pada komunikasi lisan untuk penjualan suatu produk hanya saat setelah melihat iklan produk tersebut yang pertama kali keluar. Contoh : mengerti maksud iklan tertentu setelah melihat iklan pertama kalinya.
c.Menggunakan pemberi pengaruh sebagai target pasar : iklan tidak hanya melalui media massa tapi bisa juga melalui selebaran, banner maupun baliho serta berjualan pada stand tertentu dalam suatu acara.
d.Menstimulasi komunikasi lisan : manfaat dari meminjamkan suatu barang yang akan dipasarkan untuk diperagakan maupun untuk digunakan. Contoh : test drive pada mobil keluaran terbaru.
e.Menciptakan pemberi pengaruh : melibatkan seseorang yang terkenal serta tampak mempunyai karakteristik seorang pemberi pengaruh. Contoh : artis terkenal memasarkan suatu produk tertentu agar koonsumen mau membelinya, sang produsen membuat potongan harga agar barang mereka laris dipasaran.
f.Mengendalikan komunikasi lisan yang negatif : pengakuan perusahaan terhadap barang yang gagal dalam suatu produk tertentu. Contoh : mobil Honda jazz yang di keluarkan perusahaan Honda memiliki kekurangan dalam masalah safety yang beritanya mengahangat di benua Amerika dan Eropa beberapa saat lalu sehingga mobil tersebut di tarik dari peredaran.
3.Keluarga studi Perilaku Konsumen
Memahami dan menganalisis pengaruh lingkungan keluarga terhadap perilaku konsumen
Dalam pembelajaran ini, akan dibahas dua alasan yang timbul, yaitu pertama banyak produk yang dibeli konsumen ganda yang bertindak sebagai unit keluarga, misalnya belanja bulanan yang melibatkan semua anggota keluarga dalam memilih produk yang di carinya. Kedua ketika suatu pembelian dibuat oleh individu, keputusan pembelian individu bersangkutan dan mungkin sangat dipengaruhi oleh anggota keluarga lain dalam keluarganya. Misalnya seorang anak ingin mengganti suasana kamarnya karena sudah 5 tahun tidak di cat ulang, namun hal tersebut harus dibicarakan dengan kedua orang tuanya.
Dari pembahasan diatas bahwa keluarga merupakan aspek yang penting dalam hal memilih maupun untuk memutuskan suatu hal yang terkait dengan kegiatan individu.
4. Keputusan pembelian keluarga
Memahami proses pengambilan keputusan membeli dalam lingkungan keluarga
Keluarga memiliki pendapatan rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan rumah tangga karena jumlah yang lebih banyak dari indiviidu yang bekerja didalam keluarga.
Contoh : sang anak yang sedang menenpuh tugas akhir. Ia minta di belikan laptop oleh orang tua, ayah dan ibu membicarakannya bahwa barang tersebut memang dibutuhkan anaknya karena komputer yang mereka punya sudah lama rusak, sehingga sang anak dibelikan laptop olah ayahnya.
5.Struktur keluarga dan rumah tangga yang berubah
Memahami perubahan struktur keluarga dan pengaruhnya terhadap pengambilan keputusan sebagai konsumen
Keputusan membeli dalam keluarga di pengaruhi oleh keadaan sudah menikah atau belum, ukuran jumlah anggota keluarga, hal tersebut mempengaruhi jumlah belanjaan yang akan dibeli maupun budget yang akan di siapkan untuk mengambil keputusan dalam hal membeli suatu barang. Banyak dari mereka benar-benar menghitung jumlah pengeluaran mereka sesuai dengan keadaan yang mereka hadapi dalam keluarga mereka sehari-hari, mana yang sekiranya menjadi keputusan yang utama mana yang belum menjadi prioritas saat itu.
DAFTAR PUSTAKA
Engel, J F; Roger D B; Paul, W M. 1995. Perilaku konsumen jilid I. Jakarta : Binarupa Aksara.
Memahami dinamika pengaruh pribadi dan kelompok dalam strategi pemasaran
a.Pengaruh pribadi : Komunikasi secara lisan yang digunakan dalam memikat konsumen untuk bisa membeli suatu barang tertentu yang di ceritakan oleh yang yang sebelumnya pernah menggunakan barang tersebut dan memdapatkan hasil yang baik. Serta variabel penentu yang penting didalam pengaruh pribadi adalah keterlibatan, ada beberapa hal yang memepengaruhinya, yaitu keterlibatan produk dan pengaruh social berhubungan dalam dua cara.
•Pertama : keterlibatan meningkat bila pilihan yang dibuat mempengaruhi status social seseorang dan penerimanya.
•Kedua : keterlibatan yang tinggi kerap mencetuskan pencarian informasi dari orang dapat dipercaya.
Maka dari itu pengaruh pribadi merupakan sebab sekaligus hasil dari keterlibatan yang tinggi dan jarang menjadi sangat tinggi bila keterlibatannya rendah.
b.Pengaruh kelompok : orang atau sekelompok orang yang mempengaruhi secara bermakna mengenai perilaku individu. Dapat diartikan juga bahwa perilaku seseorang yang dipengaruhi oleh perilaku kelompoknya.
Dari kedua penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku pribadi seseorang dapat di pengaruhi oleh perilaku kelompoknya agar tidak dianggap beda dalam kelompoknya sendiri.
Contoh kasus: Dalam mengikuti perkembangan jaman yang semakin modern seorang remaja ikut-ikutan temannya yang membuat account di sebuat jejaring sosial agar bisa di anggap sebagai anak gaul, padahal si remaja tersebut belum tahu apa pentingnya dari sebuah jejaring sosial.
2.Model Proses Pengaruh Pribadi, Pemberi Pengaruh dan Implikasi strategi Pemasaran dari pengaruh Pribadi.
•Model proses pengaruh pribadi menurut teori bekerja mempunyai 3 cara berbeda, yaitu :
a.Teori Menetes
Pengaruh pribadi menyatakan bahwa kelas bawah kerap berusaha menyamai perilaku rekan imbangan mereka dari kelas yang lebih tinggi, khususnya dalam bidang mode dan gaya yang baru. Jenis pengaruh ini lebih lazim terjadi diantara rekan sebaya, yang dikenal juga sebagai pengaruh homofilius, suatu istilah yang mengacu pada pengiriman informasi diantara orang yang sama dalam kelas social, usia, pendidikan, dan karakteristik demografik. Contohnya, mode baju terbaru masa kini banyak di ikuti remaja yang baru gede, BBM, jejaring sosial.
b.Arus Dua Langkah
Pengamatan yang dilakukan oleh Lazarsfeld dan para koleganya mengatakan bahwa gagasan baru dan pengaruh lain mengalir dari media massa menuju pemberi pengaruh, yang pada gilirannya meneruskan secara lisan kepada orang lain yang lebih pasif dalam mencari informasi dan jauh lebih sedikit terpapar pada media massa dan sumber lain. Namun kini banyak tidak sesuai dengan kenyataan pada masa sekarang, karena media massa memiliki dampak yang lebih besar dan luas, serta khalayak ramai sekarang sudah tidak sepasif dulu. Komunikasi lisan sama bila tidak lebih sering diprakarsai oleh penerima yang dapat dipercayai. Contoh : gosip.
c.Interaksi Banyak Tahap
Penyebaran inovasi sebagian besar membatalkan keabsahan model arus dua langkah dengan memperlihatkan bahwa baik pemberi maupun pencari dipengaruhi oleh media massa. Sesungguhnya media massa dapat memotivasi pencari untuk merancang seseorang untuk mendapatkan sesuatu. Contoh : iklan di televisi maupun di radio.
•Pemberi pengaruh, mempunya beberapa generalisasi, yaitu
a.Metode penelitian, ada 3 cara dasar untuk mengidentifikasikan seseorang yang memberi pengaruh:
Metode sosiometrik : orang diminta untuk mengidentifikasi orang lain yang mereka cari untuk mendapatkan informasi dalam pengambilan jenis keputusan tertentu
Metode informan- kunci : orang yang berpengatahuan digunakan untuk mengidentifikasi pemberi pengaruh didalam suatu system social.
Metode penunjukan diri : orang diminta mengevalusai sejauh mana mereka dicari untuk dimintai informasinya.
Dari ketiga dasar ini, biasanya yang banyak digunakan adalah dengan metode penunjukan diri karena memiliki keabsahan yang mudah diterima, sasarannya adalah untuk mengidentifikasi apakah kategori orang tertentu berfungsi sebagai pemberi pengaruh dan tidak menunjuk individu itu sendiri menurut nama.
b.Karakteristik adalah penerimaan seseorang antara satu sama lain di pengaruhi oleh gaya demografik, kegiatan social, sifat umum, kepribadian, gaya hidup, dan keterkaitan dengan produk.
c.Motivasi dalam hal ini diartikan sebagai kepuasan seseorang dari suatu produk sehingga orang tertarik untuk membeli produk tersebut.
•Implikasi Strategi Pemasaran Dari Pengaruh Pribadi
Pernyataan lisan merupakan hal yang positif dalam segi pemasaran suatu produk. Ada beberapa cara yang baik dalam hal memasarkan sesuatu, yaitu
a. Memonitor isi pernyataan lisan : memonitor untuk mengetahui apakah pesan yang disampaikan dalam sebuah iklan benar- benar di mengerti olah si penerima sehingga tidak menimbulkan dampak yang salah atau salah persepsi.
b.Kepercayaan tunggal akan komunikasi lisan : percaya hanya pada komunikasi lisan untuk penjualan suatu produk hanya saat setelah melihat iklan produk tersebut yang pertama kali keluar. Contoh : mengerti maksud iklan tertentu setelah melihat iklan pertama kalinya.
c.Menggunakan pemberi pengaruh sebagai target pasar : iklan tidak hanya melalui media massa tapi bisa juga melalui selebaran, banner maupun baliho serta berjualan pada stand tertentu dalam suatu acara.
d.Menstimulasi komunikasi lisan : manfaat dari meminjamkan suatu barang yang akan dipasarkan untuk diperagakan maupun untuk digunakan. Contoh : test drive pada mobil keluaran terbaru.
e.Menciptakan pemberi pengaruh : melibatkan seseorang yang terkenal serta tampak mempunyai karakteristik seorang pemberi pengaruh. Contoh : artis terkenal memasarkan suatu produk tertentu agar koonsumen mau membelinya, sang produsen membuat potongan harga agar barang mereka laris dipasaran.
f.Mengendalikan komunikasi lisan yang negatif : pengakuan perusahaan terhadap barang yang gagal dalam suatu produk tertentu. Contoh : mobil Honda jazz yang di keluarkan perusahaan Honda memiliki kekurangan dalam masalah safety yang beritanya mengahangat di benua Amerika dan Eropa beberapa saat lalu sehingga mobil tersebut di tarik dari peredaran.
3.Keluarga studi Perilaku Konsumen
Memahami dan menganalisis pengaruh lingkungan keluarga terhadap perilaku konsumen
Dalam pembelajaran ini, akan dibahas dua alasan yang timbul, yaitu pertama banyak produk yang dibeli konsumen ganda yang bertindak sebagai unit keluarga, misalnya belanja bulanan yang melibatkan semua anggota keluarga dalam memilih produk yang di carinya. Kedua ketika suatu pembelian dibuat oleh individu, keputusan pembelian individu bersangkutan dan mungkin sangat dipengaruhi oleh anggota keluarga lain dalam keluarganya. Misalnya seorang anak ingin mengganti suasana kamarnya karena sudah 5 tahun tidak di cat ulang, namun hal tersebut harus dibicarakan dengan kedua orang tuanya.
Dari pembahasan diatas bahwa keluarga merupakan aspek yang penting dalam hal memilih maupun untuk memutuskan suatu hal yang terkait dengan kegiatan individu.
4. Keputusan pembelian keluarga
Memahami proses pengambilan keputusan membeli dalam lingkungan keluarga
Keluarga memiliki pendapatan rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan rumah tangga karena jumlah yang lebih banyak dari indiviidu yang bekerja didalam keluarga.
Contoh : sang anak yang sedang menenpuh tugas akhir. Ia minta di belikan laptop oleh orang tua, ayah dan ibu membicarakannya bahwa barang tersebut memang dibutuhkan anaknya karena komputer yang mereka punya sudah lama rusak, sehingga sang anak dibelikan laptop olah ayahnya.
5.Struktur keluarga dan rumah tangga yang berubah
Memahami perubahan struktur keluarga dan pengaruhnya terhadap pengambilan keputusan sebagai konsumen
Keputusan membeli dalam keluarga di pengaruhi oleh keadaan sudah menikah atau belum, ukuran jumlah anggota keluarga, hal tersebut mempengaruhi jumlah belanjaan yang akan dibeli maupun budget yang akan di siapkan untuk mengambil keputusan dalam hal membeli suatu barang. Banyak dari mereka benar-benar menghitung jumlah pengeluaran mereka sesuai dengan keadaan yang mereka hadapi dalam keluarga mereka sehari-hari, mana yang sekiranya menjadi keputusan yang utama mana yang belum menjadi prioritas saat itu.
DAFTAR PUSTAKA
Engel, J F; Roger D B; Paul, W M. 1995. Perilaku konsumen jilid I. Jakarta : Binarupa Aksara.
Senin, 18 Oktober 2010
Pengaruh Lingkungan Terhadap Perilaku Konsumen
A.Nilai, Budaya dan Etnis
Nilai adalah norma-norma atau pedoman yang berkembang di suatu masyarakat tertentu yang terus di pegang teguh oleh masayakat daerah tersebut.
Budaya merupakan seperangkat pola perilaku yang secara social dialirkan secara simbolis melalui bahasa dan cara-cara lain pada anggota dari masyarakat tertentu.
Etnis adalah suatu sekelompok orang yang mempunyai norma dan nilai spesifik yang sama dalam persepsi dan kognisi yang berbeda dengan persepsi dan kognisi kelompok lain dalam dalam masyarakat yang lebih luas, nilai dapat dibentuk dari segi fisik, agama, geografis, atau faktor lainnya. Misalnya, etnis Sunda pada umumnya berkulit sawo matang dan berargama muslim sedangkan etnis Papua berkulit hitam dan beragama Kristen.
B.Budaya dan Konsumsi
Persepsi konsumen terhadap sesuatu termasuk bagaimana cara berfikir, percaya dan bertindak ditentukan oleh lingkungan budaya sekitar konsumen itu berada serta kelompok yang berhubungan konsumen. Seluruh pengaruh kelompok social pada perilaku beli konsumen diawali dari kebudayaan dimana konsumen tinggal.
Kebudayaan mengimpikasikan bagaimana cara hidup yang dipelajari secara total dan diwariskan. Hal ini mengandung arti bahwa kebudayaan tidak hanya mencakup tindakan yang didasarkan naluri, tapi juga dipelajari. Kebudayaan juga mempengaruhi perilaku membeli karena budaya menyerak ke dalam kehidupan sehari-hari, menetapkan apa yang kita dengar dan makan, dimana kita tinggal, dan keman kita berpergian.
Contoh : spaghetti LaFontte mempromosikan produknya sebagai cara mudah dalam menyajikan sebuah spaghetti yang tadinya sulit untuk dibuat kini, hanya dengan membeli sekotak LaFontte akan mendapatkan spaghetti-nya, sausnya serta daging yang secukupnya. Kini bila ingin makan hanya dengan memasak spaghetti dan pelengkap lalu di tuang saja sausnya, kemudian dapat disantap dengan mudah. Dari pada harus menelpon ke rumah makan cepat saji yang belum tentu dalam waktu 5 menit mereka sudah datang.
C.Nilai- Nilai yang Berubah
Nilai-nilai yang melingkupi suatu kelompok masyarakat memepengaruhi sikap dan tindakan individu dalam masyarakat tertentu. Sikap dan tindakan individu dalam suatu masyarakat berkaitan dengan keyakinan, nilai atau norma akan menimbulkan sikap dan tindakan yang cenderung homogen. Artinya, jika setiap individu mengacu pada nilai, keyakinan, aturan, norma kelompok maka setiap perilaku mereka aka cenderung seragam. Setiap kelompok masyarakat tertentu akan mempunyai cara yang berbeda dalam menjalani kehidupannya dengan sekelompok masyarakat lainnya.
Budaya meupaka cara menjalani hidup suatu masyarakat yang ditransmisikan para anggota masyarakatnya dari generasi ke generasi berikutnya. Proses transmisi dari generasi ke generasi dalam perjalanannya mengalami berbagai macam proses distorsi dan penetrasi budaya lain. Hal ini memungkinkan karena informasi dan mobilitas anggota suatu masyarakat dengan anggota masyarakat lainnya mengalir tanpa hambatan. Interaksi antar anggota masyarakat yang berbeda latar belakang budayanya semakain intens.
Oleh karena itu, dalam proses transmisi budaya dari generasi ke generasi, proses adaptasi budaya lain sangat memungkinkan.
Misalnya : proses difusi budaya popular dari Negara-negara barat, sehingga budaya Indonesia sudah tidak lagi dijadikan dasar dalam bersikap dan berperilaku.
D.Pengaruh Etnis Pada Perilaku Konsumen
Ada banyak keragaman etnis yang di punyai bangsa Indonesia, seperti halnya norma yang dianut, kebiasaan, sejarahnya dan lain-lain, maka akan dapat dirancang suatu strategi pemasaran yang tepat yang tidak melanggar nilai-nilai dan norma yang dianut suatu etnis tertentu. Di Indonesia biasanya suatu sub- budaya etnis pemasar melakukan stretegi yang pada umumnya berhubungan dengan produk makanan misalnya seperti yang dilakukan oleh Indomie dengan memasarkan produk Selera Nusantara, selain itu di beberapa tempat di kota besar terdapat banyak sekali tempat-tempat makan/ restaurant yang mengkhususkan produk makanan atau masakan dari etnis tertentu, misalnya Rumah Makan Padang, Rumah Makan Sunda, Rumah Makan Daen Tata, dan lain-lain dengan harapan orang-orang dari etnis tertentu untuk makan di tempat tersebut
DAFTAR PUSTAKA :
Setiadi, N J. 2003. Perilaku konsumen konsep dan implikasi untuk strategi dan penelitian pemasaran. Jakarta : Preneda Media.
Nilai adalah norma-norma atau pedoman yang berkembang di suatu masyarakat tertentu yang terus di pegang teguh oleh masayakat daerah tersebut.
Budaya merupakan seperangkat pola perilaku yang secara social dialirkan secara simbolis melalui bahasa dan cara-cara lain pada anggota dari masyarakat tertentu.
Etnis adalah suatu sekelompok orang yang mempunyai norma dan nilai spesifik yang sama dalam persepsi dan kognisi yang berbeda dengan persepsi dan kognisi kelompok lain dalam dalam masyarakat yang lebih luas, nilai dapat dibentuk dari segi fisik, agama, geografis, atau faktor lainnya. Misalnya, etnis Sunda pada umumnya berkulit sawo matang dan berargama muslim sedangkan etnis Papua berkulit hitam dan beragama Kristen.
B.Budaya dan Konsumsi
Persepsi konsumen terhadap sesuatu termasuk bagaimana cara berfikir, percaya dan bertindak ditentukan oleh lingkungan budaya sekitar konsumen itu berada serta kelompok yang berhubungan konsumen. Seluruh pengaruh kelompok social pada perilaku beli konsumen diawali dari kebudayaan dimana konsumen tinggal.
Kebudayaan mengimpikasikan bagaimana cara hidup yang dipelajari secara total dan diwariskan. Hal ini mengandung arti bahwa kebudayaan tidak hanya mencakup tindakan yang didasarkan naluri, tapi juga dipelajari. Kebudayaan juga mempengaruhi perilaku membeli karena budaya menyerak ke dalam kehidupan sehari-hari, menetapkan apa yang kita dengar dan makan, dimana kita tinggal, dan keman kita berpergian.
Contoh : spaghetti LaFontte mempromosikan produknya sebagai cara mudah dalam menyajikan sebuah spaghetti yang tadinya sulit untuk dibuat kini, hanya dengan membeli sekotak LaFontte akan mendapatkan spaghetti-nya, sausnya serta daging yang secukupnya. Kini bila ingin makan hanya dengan memasak spaghetti dan pelengkap lalu di tuang saja sausnya, kemudian dapat disantap dengan mudah. Dari pada harus menelpon ke rumah makan cepat saji yang belum tentu dalam waktu 5 menit mereka sudah datang.
C.Nilai- Nilai yang Berubah
Nilai-nilai yang melingkupi suatu kelompok masyarakat memepengaruhi sikap dan tindakan individu dalam masyarakat tertentu. Sikap dan tindakan individu dalam suatu masyarakat berkaitan dengan keyakinan, nilai atau norma akan menimbulkan sikap dan tindakan yang cenderung homogen. Artinya, jika setiap individu mengacu pada nilai, keyakinan, aturan, norma kelompok maka setiap perilaku mereka aka cenderung seragam. Setiap kelompok masyarakat tertentu akan mempunyai cara yang berbeda dalam menjalani kehidupannya dengan sekelompok masyarakat lainnya.
Budaya meupaka cara menjalani hidup suatu masyarakat yang ditransmisikan para anggota masyarakatnya dari generasi ke generasi berikutnya. Proses transmisi dari generasi ke generasi dalam perjalanannya mengalami berbagai macam proses distorsi dan penetrasi budaya lain. Hal ini memungkinkan karena informasi dan mobilitas anggota suatu masyarakat dengan anggota masyarakat lainnya mengalir tanpa hambatan. Interaksi antar anggota masyarakat yang berbeda latar belakang budayanya semakain intens.
Oleh karena itu, dalam proses transmisi budaya dari generasi ke generasi, proses adaptasi budaya lain sangat memungkinkan.
Misalnya : proses difusi budaya popular dari Negara-negara barat, sehingga budaya Indonesia sudah tidak lagi dijadikan dasar dalam bersikap dan berperilaku.
D.Pengaruh Etnis Pada Perilaku Konsumen
Ada banyak keragaman etnis yang di punyai bangsa Indonesia, seperti halnya norma yang dianut, kebiasaan, sejarahnya dan lain-lain, maka akan dapat dirancang suatu strategi pemasaran yang tepat yang tidak melanggar nilai-nilai dan norma yang dianut suatu etnis tertentu. Di Indonesia biasanya suatu sub- budaya etnis pemasar melakukan stretegi yang pada umumnya berhubungan dengan produk makanan misalnya seperti yang dilakukan oleh Indomie dengan memasarkan produk Selera Nusantara, selain itu di beberapa tempat di kota besar terdapat banyak sekali tempat-tempat makan/ restaurant yang mengkhususkan produk makanan atau masakan dari etnis tertentu, misalnya Rumah Makan Padang, Rumah Makan Sunda, Rumah Makan Daen Tata, dan lain-lain dengan harapan orang-orang dari etnis tertentu untuk makan di tempat tersebut
DAFTAR PUSTAKA :
Setiadi, N J. 2003. Perilaku konsumen konsep dan implikasi untuk strategi dan penelitian pemasaran. Jakarta : Preneda Media.
Sabtu, 16 Oktober 2010
perilaku pengambilan keputusan dan persepsi perilaku konsumen
I.Proses Perilaku Pengambilan Keputusan
Mengenali Kebutuhan Pencarian Informasi Evaluasi Alternatif Keputusan Membeli Perilaku Pasca Pembelian.
Keterangan :
a.Mengenali kebutuhan : proses membeli diawali saat pembeli menyadari adanya masalah kebutuhan. Kebutuhan ini di dasari oleh rangsangan internal, misalnya rasa lapar, haus hingga ke tingkat tertentu dan berubah menjadi sebuah dorongan. Serta yang di dasari oleh rangsangan eksternal misalnya seseorang melewati roti bakar dan bau roti bakar tersebut dapat merangsang rasa lapar seseorang, sehingga orang tersebut yang tadinya tidak ingin membeli roti bakar malam membeli roti bakar tersebut.
b.Pencarian informasi : seorang konsumen yang mulai timbul minatnya akan terdorong mencari informasi lebih banyak akan barang yang diinginkan. Kita dapat membedakan tingkatnya melalui dua tingkatan, yaitu tingkat pencarian informasi yang sedang-sedang saja yang disebut perhatian meningkat. Dan proses mencari informasi secara aktif.
c.Evaluasi alternatif : ada beberapa proses evaluasi keputusan yang dilakukan soerang konsumen saat ingin membeli sesuatu. kebanyakan konsumen mengembangkan kepercayaan merek tentang dimana setiap merek berada pada ciri masing-masing.
d.Keputusan membeli : pada tahap evaluasi, konsumen membentuk preferensi terhadap merek-merek yang terdapat pada perangkat pilihan. Konsumen jg membentuk suatu tujuan untuk memilih merek yang paling disukai. Ada hal yang memepengaruhi keputusan membeli, yaitu sikap orang lain akan suatu merek dagang,
e.Perilaku setelah membeli : setelah membeli suatu produk yang dilakukan konsumen akan mengalami beberapa ringkat kepuasan atau bahkan ketidakpuasan akan barang tersebut.
f.Kepuasan sesudah pembelian : kepuasan pembeli merupakan fungsi dari dekatnya antara harapan dari pembelian tentang produk dan kemampuan produk tersebut.
g.Tindakan-tindakan sesudah pembelian : kepuasan atau ketidakpuasan konsumen pada suatu produk akan mempengaruhi tingkah laku berikutnya. Bila konsumen merasa puas, maka akan memperlihatkan kemungkinan yang lebih tinggi untuk membeli produk itu lagi, dan sebaliknya.
h.Penggunaan dan pembuangan sesudah pembelian : para pemasar juga harus mengontrol bagaimana pembeli menggunakan dan membuang suatu produk. Bila konsumen menemukan cara pemakaian penggunaan baru tersebut diiklankan. Bila konsumen menyimpan produk tersebut dilemari mereka, ini merupakan petunjukbahwa produk tersebut kurang memuaskan dan konsumen tidak akan hal-hal yang baik terhadap produk tersebut.
II.Keputusan Dan Persepsi Konsumen
Keputusan konsumen dalam membeli barang di pengaruhi oleh beberapa persepsi serta pandangan mereka mengenai kualitas, serta kuantitas bahkan dari sebuah merk pun mereka bisa langsung membeli tanpa memikitkan berapapun harganya karena mereka sudah mengetahui kualitas dari barang tersebut.
Namun ada juga yang di pengaruhi oleh stimuli, yaitu stimuli pemasaran dimana semua hal dari sebuah produk di pengaruhi dari cara pandang konsumen saat melihat bentuk fisik, kemasan, serta isi dari sebuah produk. Serta stimuli lingkungan (sosial budaya) dimana produk yang dipasarkan dilihat dari cara packaging dari sebuah barang tersebut serta bisa dari bau, cahaya, serta suara.
DAFTAR PUSTAKA :
Setiadi, N J. 2003. Perilaku konsumen konsep dan implikasi untuk strategi dan penelitian pemasaran. Jakarta : Preneda Media.
Mengenali Kebutuhan Pencarian Informasi Evaluasi Alternatif Keputusan Membeli Perilaku Pasca Pembelian.
Keterangan :
a.Mengenali kebutuhan : proses membeli diawali saat pembeli menyadari adanya masalah kebutuhan. Kebutuhan ini di dasari oleh rangsangan internal, misalnya rasa lapar, haus hingga ke tingkat tertentu dan berubah menjadi sebuah dorongan. Serta yang di dasari oleh rangsangan eksternal misalnya seseorang melewati roti bakar dan bau roti bakar tersebut dapat merangsang rasa lapar seseorang, sehingga orang tersebut yang tadinya tidak ingin membeli roti bakar malam membeli roti bakar tersebut.
b.Pencarian informasi : seorang konsumen yang mulai timbul minatnya akan terdorong mencari informasi lebih banyak akan barang yang diinginkan. Kita dapat membedakan tingkatnya melalui dua tingkatan, yaitu tingkat pencarian informasi yang sedang-sedang saja yang disebut perhatian meningkat. Dan proses mencari informasi secara aktif.
c.Evaluasi alternatif : ada beberapa proses evaluasi keputusan yang dilakukan soerang konsumen saat ingin membeli sesuatu. kebanyakan konsumen mengembangkan kepercayaan merek tentang dimana setiap merek berada pada ciri masing-masing.
d.Keputusan membeli : pada tahap evaluasi, konsumen membentuk preferensi terhadap merek-merek yang terdapat pada perangkat pilihan. Konsumen jg membentuk suatu tujuan untuk memilih merek yang paling disukai. Ada hal yang memepengaruhi keputusan membeli, yaitu sikap orang lain akan suatu merek dagang,
e.Perilaku setelah membeli : setelah membeli suatu produk yang dilakukan konsumen akan mengalami beberapa ringkat kepuasan atau bahkan ketidakpuasan akan barang tersebut.
f.Kepuasan sesudah pembelian : kepuasan pembeli merupakan fungsi dari dekatnya antara harapan dari pembelian tentang produk dan kemampuan produk tersebut.
g.Tindakan-tindakan sesudah pembelian : kepuasan atau ketidakpuasan konsumen pada suatu produk akan mempengaruhi tingkah laku berikutnya. Bila konsumen merasa puas, maka akan memperlihatkan kemungkinan yang lebih tinggi untuk membeli produk itu lagi, dan sebaliknya.
h.Penggunaan dan pembuangan sesudah pembelian : para pemasar juga harus mengontrol bagaimana pembeli menggunakan dan membuang suatu produk. Bila konsumen menemukan cara pemakaian penggunaan baru tersebut diiklankan. Bila konsumen menyimpan produk tersebut dilemari mereka, ini merupakan petunjukbahwa produk tersebut kurang memuaskan dan konsumen tidak akan hal-hal yang baik terhadap produk tersebut.
II.Keputusan Dan Persepsi Konsumen
Keputusan konsumen dalam membeli barang di pengaruhi oleh beberapa persepsi serta pandangan mereka mengenai kualitas, serta kuantitas bahkan dari sebuah merk pun mereka bisa langsung membeli tanpa memikitkan berapapun harganya karena mereka sudah mengetahui kualitas dari barang tersebut.
Namun ada juga yang di pengaruhi oleh stimuli, yaitu stimuli pemasaran dimana semua hal dari sebuah produk di pengaruhi dari cara pandang konsumen saat melihat bentuk fisik, kemasan, serta isi dari sebuah produk. Serta stimuli lingkungan (sosial budaya) dimana produk yang dipasarkan dilihat dari cara packaging dari sebuah barang tersebut serta bisa dari bau, cahaya, serta suara.
DAFTAR PUSTAKA :
Setiadi, N J. 2003. Perilaku konsumen konsep dan implikasi untuk strategi dan penelitian pemasaran. Jakarta : Preneda Media.
Kamis, 07 Oktober 2010
faktor perilaku konsumen dan dinamika
I.Faktor- faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen :
1.Faktor- faktor kebudayaan
a.Kebudayaan : kebudayaan merupakan faktor penentu yang paling dasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Bila makhluk lainnya bertindak berdasarkan naluri maka perilaku manusia umumnya dipelajari.
Contoh : seseorang belajar makan saat dia melihat orang tuanya makan
b.Sub budaya : setiap kebudayaan terdiri dari sub-budaya – sub-budaya yang lebih kecil memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk para anggotanya. Misalnya suatu kelompok agama.
c.Kelas sosial : kelompok yang lebih homogen dan bertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersususn secara hierarki dan keanggotaannya mempunyai nilai, minat, dan perilaku yang serupa.
2.Faktor- faktor sosial
a.Kelompok Referensi seseorang terdiri dari seluruh kelompok yang mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang.
b.Keluarga : ada 2 jenis keluarga dalam kehidupan membeli, yaitu keluarga orientasi yang merupakan orang tua dari seseorang. Dari orang tualah seseorang mendapatkan pandangan tentang agama, politik, ekonomi, dan merasakan ambisi pribadi, nilai, atau harga diri akan cinta. Serta keluarga prokreasi yaitu keluarga yang merupakan organisasi pembeli dan konsumen yang paling penting dalam suatu masyarakat
c.Peran dan Status : umumnya seseorang berpartisipasi dalam sebuah kelompok.
3.Faktor psribadi
a.Umur dan tahapan dalam siklus kehidupan: konsumsi seseorang di bentuk oleh tahapan siklus kebutuhan seseorang
b.Pekerjaan : para pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok pekerja yang memiliki minat di atas rata-rata.
c.Keadaan ekonomi : bagaimana pendapatan seseorang serta daya beli
d.Gaya hidup : bagaimana seseorang mengekspresikan kegiatannya seperti minat, dari pendapatan mereka. Gaya hidup juga menunjukan kelas sosial seseorang dimata masyarakat
e.Kepribadian dan konsep diri : mengetahui pandangan seseorang terhadap suatu barang
4.Faktor- faktor psikologis
a.Motivasi : beberapa kebutuhan bersifat biogenik, kebutuhan timbul dari suatu keadaan psikologis tertentu. Misalnya lapar, haus, serta rasa tidak nyaman.
b.Persepsi : bagaimana seseorang memilih, mengorganisasikan, mengartikan masukan informasi untuk suatu gambaran.
II.Dinamika Psikologis Perilaku Konsumen
Bagaimana perilaku seseoarang bila dimaknai sebagai proses yang dilalui oleh seseorang dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan bertindak pasca konsumsi produk, jasa, maupun ide, yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya.
Proses terbentuknya perilaku konsumen :
Mengenali kebutuhan untuk dirinya pencarian informasi akan barang yang dibutuhkan pemilihan akan merek, harga, serta kualitas dari barang yang akan di beli keputusan membeli perilaku terhadap suatu barang yang telah dibelinya.
Daftar Pustaka :
Setiadi, N J. 2003. Perilaku konsumen : konsep dan implikasi. Jakarta : Prenada media.
1.Faktor- faktor kebudayaan
a.Kebudayaan : kebudayaan merupakan faktor penentu yang paling dasar dari keinginan dan perilaku seseorang. Bila makhluk lainnya bertindak berdasarkan naluri maka perilaku manusia umumnya dipelajari.
Contoh : seseorang belajar makan saat dia melihat orang tuanya makan
b.Sub budaya : setiap kebudayaan terdiri dari sub-budaya – sub-budaya yang lebih kecil memberikan identifikasi dan sosialisasi yang lebih spesifik untuk para anggotanya. Misalnya suatu kelompok agama.
c.Kelas sosial : kelompok yang lebih homogen dan bertahan lama dalam suatu masyarakat, yang tersususn secara hierarki dan keanggotaannya mempunyai nilai, minat, dan perilaku yang serupa.
2.Faktor- faktor sosial
a.Kelompok Referensi seseorang terdiri dari seluruh kelompok yang mempunyai pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang.
b.Keluarga : ada 2 jenis keluarga dalam kehidupan membeli, yaitu keluarga orientasi yang merupakan orang tua dari seseorang. Dari orang tualah seseorang mendapatkan pandangan tentang agama, politik, ekonomi, dan merasakan ambisi pribadi, nilai, atau harga diri akan cinta. Serta keluarga prokreasi yaitu keluarga yang merupakan organisasi pembeli dan konsumen yang paling penting dalam suatu masyarakat
c.Peran dan Status : umumnya seseorang berpartisipasi dalam sebuah kelompok.
3.Faktor psribadi
a.Umur dan tahapan dalam siklus kehidupan: konsumsi seseorang di bentuk oleh tahapan siklus kebutuhan seseorang
b.Pekerjaan : para pemasar berusaha mengidentifikasi kelompok pekerja yang memiliki minat di atas rata-rata.
c.Keadaan ekonomi : bagaimana pendapatan seseorang serta daya beli
d.Gaya hidup : bagaimana seseorang mengekspresikan kegiatannya seperti minat, dari pendapatan mereka. Gaya hidup juga menunjukan kelas sosial seseorang dimata masyarakat
e.Kepribadian dan konsep diri : mengetahui pandangan seseorang terhadap suatu barang
4.Faktor- faktor psikologis
a.Motivasi : beberapa kebutuhan bersifat biogenik, kebutuhan timbul dari suatu keadaan psikologis tertentu. Misalnya lapar, haus, serta rasa tidak nyaman.
b.Persepsi : bagaimana seseorang memilih, mengorganisasikan, mengartikan masukan informasi untuk suatu gambaran.
II.Dinamika Psikologis Perilaku Konsumen
Bagaimana perilaku seseoarang bila dimaknai sebagai proses yang dilalui oleh seseorang dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan bertindak pasca konsumsi produk, jasa, maupun ide, yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya.
Proses terbentuknya perilaku konsumen :
Mengenali kebutuhan untuk dirinya pencarian informasi akan barang yang dibutuhkan pemilihan akan merek, harga, serta kualitas dari barang yang akan di beli keputusan membeli perilaku terhadap suatu barang yang telah dibelinya.
Daftar Pustaka :
Setiadi, N J. 2003. Perilaku konsumen : konsep dan implikasi. Jakarta : Prenada media.
Rabu, 29 September 2010
konsumsi, konsumen, konsumtif, konsumerisme
1.Konsumsi adalah
Konsumsi adalah suatu aktifitas memakai atau menggunakan suatu prosuk barang atau jasa yang dihasilkan oleh para produsen.
Contoh : belanja setiap hari di warung, misalnya belanja sayuran maupun makanan kecil di warung.
2.Konsumen adalah Perusahaan atau perseorangan yang melakukan kegiatan konsumsi.
Contoh : sebagai pembeli makanan siap saji di salah satu restaurant.
3.Konsumtif adalah perilaku menggunakan sesuatu secara berlebihan yang tidak sesuai dengan kebutuhan yang sedang di butuhkan pada saat itu.
Contoh : saat midnight sale yang di gelar beberapa pusat perbelanjaan yang ada di Jakarta, banyak dari para kaum wanita maupun pria yang memburu barang-barang yang di tawarkan. Kadang apa yang ditawarkan pusat perbelanjaan dengan diskon yang cukup menarik, barang tersebut belum mereka butuhkan. Sehingga saat mereka kembali ke rumah setelah belanja mereka bingung bahwa barang tersebut kadang tidak mereka butuhkan pada saat tersebut.
4.Konsumerisme adalah kebijakan dan aktivas yang dirancang untuk melindungi kepentingan dan hak konsumen ketika mereka terlibat dalam hubungan pertukaran dengan organisasi jenis apapun. Ada pendapat dari Presiden Kennedy pada tahun 1962 yang menyatakan konsumerisme baru yaitu, konsumerisme kontemporer yang melindungi pernyataan hak-hak akan konsumen.
Contoh : Konsumen dilindungi hak-hak mereka bila mereka membeli suatu barang dan bila barang tersebut tidak cocok dengan apa yang ditawarkan oleh pihak distributor barang tersebut. Konsumen berhak untuk menuntut ataupun complain ke distributor barang tersebut.
Ada contoh kasus lain yaitu, tarif kereta KRL pada bulan oktober nanti akan naik sekitar Rp. 500 - Rp. 2500, hal ini merugikan pihak pengguna jasa moda transportasi tersebut yang melihat pelayan dari jasa commuter sebagai operator serta PT KAI sebagai penanggung jawab yang kurang memperhatikan teknis dilapangan seperti keadaan kereta yang kurang nyaman untuk ibu hamil maupun orang tua walaupun sekarang sudah tersedia kereta khusus wanita. Konsumen merasa tidak adanya perbaikan dari moda transportasi tersebut baik pelayanan maupun prasarana bila harga tiket akan naik. Sebagai kosumen kita berhak untuk menuntut kepada PT KAI yang kurang berbenah, bila tarif ingin dinaikkan.
Dari kedua contoh kasus tersebut bisa dilihat bahwa konsumerisme adalah penuntutan hak-hak dari konsumen bila konsumen merasa di rugikan.
Daftar Pustaka
Engel, James F; Blackwell, Roger D; Miniard, Paul W. 1995. Perilaku konsumen jilid 2. Jakarta : Binarupa Aksara.
Anonim. 2010. Kegiatan konsumsi. Diterbitkan 20 April 2010. http://organisasi.org/pengertian_jenis_macam_kegiatan_ekonomi_arti_def inisi_produksi_distribusi_dan_konsumsi_ilmu_pendidikan_ekonomi_ dasar
Konsumsi adalah suatu aktifitas memakai atau menggunakan suatu prosuk barang atau jasa yang dihasilkan oleh para produsen.
Contoh : belanja setiap hari di warung, misalnya belanja sayuran maupun makanan kecil di warung.
2.Konsumen adalah Perusahaan atau perseorangan yang melakukan kegiatan konsumsi.
Contoh : sebagai pembeli makanan siap saji di salah satu restaurant.
3.Konsumtif adalah perilaku menggunakan sesuatu secara berlebihan yang tidak sesuai dengan kebutuhan yang sedang di butuhkan pada saat itu.
Contoh : saat midnight sale yang di gelar beberapa pusat perbelanjaan yang ada di Jakarta, banyak dari para kaum wanita maupun pria yang memburu barang-barang yang di tawarkan. Kadang apa yang ditawarkan pusat perbelanjaan dengan diskon yang cukup menarik, barang tersebut belum mereka butuhkan. Sehingga saat mereka kembali ke rumah setelah belanja mereka bingung bahwa barang tersebut kadang tidak mereka butuhkan pada saat tersebut.
4.Konsumerisme adalah kebijakan dan aktivas yang dirancang untuk melindungi kepentingan dan hak konsumen ketika mereka terlibat dalam hubungan pertukaran dengan organisasi jenis apapun. Ada pendapat dari Presiden Kennedy pada tahun 1962 yang menyatakan konsumerisme baru yaitu, konsumerisme kontemporer yang melindungi pernyataan hak-hak akan konsumen.
Contoh : Konsumen dilindungi hak-hak mereka bila mereka membeli suatu barang dan bila barang tersebut tidak cocok dengan apa yang ditawarkan oleh pihak distributor barang tersebut. Konsumen berhak untuk menuntut ataupun complain ke distributor barang tersebut.
Ada contoh kasus lain yaitu, tarif kereta KRL pada bulan oktober nanti akan naik sekitar Rp. 500 - Rp. 2500, hal ini merugikan pihak pengguna jasa moda transportasi tersebut yang melihat pelayan dari jasa commuter sebagai operator serta PT KAI sebagai penanggung jawab yang kurang memperhatikan teknis dilapangan seperti keadaan kereta yang kurang nyaman untuk ibu hamil maupun orang tua walaupun sekarang sudah tersedia kereta khusus wanita. Konsumen merasa tidak adanya perbaikan dari moda transportasi tersebut baik pelayanan maupun prasarana bila harga tiket akan naik. Sebagai kosumen kita berhak untuk menuntut kepada PT KAI yang kurang berbenah, bila tarif ingin dinaikkan.
Dari kedua contoh kasus tersebut bisa dilihat bahwa konsumerisme adalah penuntutan hak-hak dari konsumen bila konsumen merasa di rugikan.
Daftar Pustaka
Engel, James F; Blackwell, Roger D; Miniard, Paul W. 1995. Perilaku konsumen jilid 2. Jakarta : Binarupa Aksara.
Anonim. 2010. Kegiatan konsumsi. Diterbitkan 20 April 2010. http://organisasi.org/pengertian_jenis_macam_kegiatan_ekonomi_arti_def inisi_produksi_distribusi_dan_konsumsi_ilmu_pendidikan_ekonomi_ dasar
Langganan:
Postingan (Atom)