Kamis, 17 Juni 2010

bahagia

mamahhh, aku senang ternyata PI ku dah tinggal sidang ajah,,,
doaian ya mah, semoga bs tepat waktu semuanya..
apa yang mamah mau dan mamah cita2kan bisa tercapai ya mah....
doakan selalu anakmu yang nakal ini.....
miss u,,
gag lagi2 ngecewain mamahku sayanggg

Jumat, 11 Juni 2010

modifikasi perilaku mengemut jari

A. Latar Belakang Masalah

Kebiasaan dari seseorang bisa berbeda-beda. Ada yang suka menggigiti kukunya di saat-saat tertentu, ada pula yang masih menggunakan dot untuk meminum susu padahal seharusnya bukan menggunakan dot kembali untuk meminum susu, bahkan saat usia dewasapun masuh terdapat seseorang yang menggunakan jari tangannya untuk mengemutnya. Hal tersebut yang akan kami angkat dalam penelitian kami untuk merubah perilaku orang yang tadinya suka mengemut jari untuk di ubah dengan tidak mengemut jarinya lagi ataupun dialihkan dengan kegiatan positif yang membuatnya lupa akan kebiasaannya tersebut.

Kegiatan mengemut jari merupakan kegiatan yang seharusnya dilakukan saat usia perkembangan memasuki usia 18 bulan pertama setelah lahir, yang dimana kebutuhan akan oral seharusnya terpenuhi. Namun hal tersebut masih terjadi saat usia 21 tahun yang mengemut jarinya saat tidak ada orang yang melihatnya.

Kebiasaan mengemut jari dilakukan seseorang pada saat-saat tertentu yang tidak terlihat orang ataupun dilakukan saat orang terdekatnya saja yang melihat, si subyek jarang menunjukan hal tersebut pada orang yang belum ia kenal.

Bahkan bila subyek sudah kenal betul dengan orang disampingnya ia bisa menunjukan jari yang penuh dengan air liur kepada orang yang disampingnya bahkan tak enggan untuk menaruh air liurnya tersebut di baju orang yang berada disampingnya.


B. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apa yang menjadi kebiasaan seseorang dan berusaha untuk merubah sedikit dari kebiasaan orang tersebut.

C. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian ini memberikan gambaran bahwa kebiasaan dari setiap orang berbeda-beda yang yang baik menurutnya namun yang yang kurang baik dimata orang yang melihatnya.

2. Manfaat Teoritis

Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kebiasaan seseorang yang berbeda, dan dapat digunakan sebagai acuan peneliti lain untuk meneliti lebih lanjut.

D. Pembahasan

1. Perkembangan Masa Oral

Tahapan ini berlangsung selama 18 bulan pertama kehidupan.
Mulut merupakan sumber kenikmatan utama. Dua macam aktivitas oral di sini, yaitu menggigit dan menelan makanan, merupakan prototype bagi banyak ciri karakter yang berkembang di kemudian hari. Kenikmatan yang diperoleh dari inkorporasi oral dapat dipindahkan ke bentuk-bentuk inkorporasi lain, seperti kenikmatan menggiti kuku jarinya ataupun mengemut/ menghisap jarinya.

Pada fase ini mulut merupakan daerah pokok aktivitas dinamik atau daerah kepuasan seksual yang dipilih oleh insting seksual. Makan/minum menjadi sumber kenikmatannya. Kenikmatan atau kepuasan diperoleh dari ransangan terhadap bibir-rongga mulut-kerongkongan, tingkah laku menggigit dan menguyah (sesudah gigi tumbuh), serta menelan dan memuntahkan makanan (kalau makanan tidak memuaskan). Kenikmatan yang diperoleh dari aktivitas menyuap/menelan (oral incorforation) dan menggigit (oral agression) dipandang sebagai prototip dari bermacam sifat pada masa yang akan datang. Kepuasan yang berlebihan pada masa oral akan membentuk oran incorporation personality pada masa dewasa, yakni orang menjadi senang/fiksasi mengumpulkan pengetahuan atau mengumpulkan harta benda, atau gampang ditipu (mudah menelan perkataan orang lain. Sebaliknya, ketidakpuasan pada fase oral, sesudah dewasa orang menjadi tidak pernah puas, tamak (memakan apa saja) dalam mengumpulkan harta. Oral agression personality ditandai oleh kesenangan berdebat dan sikap sarkatik, bersumber dari sikap protes bayi (menggigit) terhadap perlakuan ibunya dalam menyusui. Mulut sebagai daerah erogen, terbawa sampai dewasa dalam bentuk yang lebih bervariasi, mulai dari menguyah permen karet, menggigit pensil, senang makan, menisap rokok, menggunjing orang lain, sampai berkata-kata kotor/sarkastik. Tahap ini secara khusus ditandai oleh berkembangnya perasaan ketergantungan, mendapat perindungan dari orang lain, khususnya ibu. Perasaan tergantung ini pada tingkat tertentu tetap ada dalam diri setiap orang, muncul kapan saja ketika orang merasa cemas dan tidak aman pada masa yang akan datang menurut freud (dalam Anne,2010).

2. Modifikasi Perilaku

Perilaku menunjuk kepada teknik mengubah perilaku, seperti mengubah perilaku dan reaksi seseorang terhadap suatu stimulus melalui penguatan perilaku adaptif danatau penghilangan perilaku maladaptif melalui hukuman. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Edward Thorndike pada tahun 1911 dalam artikelnya Provisional laws of acquired behavior or learning.

Eksperimen psikologi klinis menggunakan istilah modifikasi perilaku untuk merujuk pada teknik psikoterapi khususnya untuk meningkatkan perilaku adaptif dan menghilangkan yang maladaptif. Dua istilah lain yang berhubungan adalah terapi perilaku dan analisis perilaku. Dalam hal ini, beberapa penulis, menganggap bahwa modifikasi perilaku cakupannya lebih luas dibanding dua metode perubahan perilaku lainnya.

E. Metode Penelitian

1. Subyek

Subyek dalam penelitian ini adalah mahasiswa berusia 21 tahun, berjenis kelamin laki-laki, yang sedang melakukan kegiatan studinya di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta.

2. Teknik Pengumpulan data

Adapun teknik pengumpulan datanya mengunakan teknik observasi dan wawancara.


F. Pelaksanaan Hasil Penelitian

1. Penjelasan mengenai kebiasaan yang dilakukan subyek

Adapun pelaksanaan penelitian dilakukan saat observer bersama dengan subyek untuk pergi bersama ke suatu tempat, dan saat subyek berada di rumah untuk mengetahui kebiasaan mengemut jarinya saat apa saja dilakukan bila sedang dirumah.

2. Kegiatan Observasi

Peneliti melakukan observasi saat pergi bersama dengan subyek dalam setengah jam pertama subyek melakukan kebiasaan mengemut jari tersebut sebanyak 9 kali, adapun datanya sebagai berikut

No

Waktu

Lamanya (dalam menit

1

17.30

7

2

17.39

2

3

17.41.

2

4

17.44

1

5

17.45

1

6

17.47

1

7

17.49

1

8

17.50

3

9

17.56

2

Keesokan harinya subyek kembali pergi dengan observer. Kemudian observer mencatat kembali kebiasaan yang dilakukan subyek selama 20 menit subyek melakukan kebiasaan tersebut selama 4 kali, adapun datanya sebagai berikut:

No

Waktu

Lamanya (dalam menit)

1

15.34

5

2

15.36

1

3

15.38

3

4

15.41

2

Kegiatan tersebut subyek lakukan bila bersama orang yang sudah dekat dengannya atupun terjadi saat-saat subyek tidak sedang melakukan kegiatan yang rutin, dalam keadaan mencari bukupun subyek dapat mengemut jarinya tersebut, tanpa ada orang lain yang melihatnya. Bahkan saat dilarang subyekpun memberikan jarinya yang penuh dengan air liur ke observer yang melarangnya untuk mengemut jarinya tersebut.

3. Kegiatan wawancara

a. Dengan Subyek

Wawancara dilakukan saat pewawancara sedang pergi dengan subyek. Subyek memberitahukan kegiatan yang dilakukannya itu sudah lama ia lakukan, hal tersebut ia lakukan hanya bersama orang yang sudah kenal betul dengannya atau saat tertentu yang orang lain tidak lihat. Biasanya setelah mengemut jari tersebut subyek suka memeperkan pada orang yang berada di sampingnya.

b. Orang Tua Subyek

Wawancara dilakukan dirumah subyek. Orang tua dari si subyek menjelaskan bahwa kegiatan yang subyek lakukan sudah dijalankan sejak subyek dari kecil. Orang tua subyek tidak tahu persis kenapa hal tersebut dilakukan oleh subyek.

Orang tua subyek sudah mencoba berbagai cara seperti memberikan brotowali ke jari subyek bahkan hingga minyak kayu putih, agar subyek tidak lagi mengemut jarinya, namun hal tersebut percuma untuk dilakukan karena si subyek akan mencuci jarinya tersebut untuk melakukan hal yang ia senangi, yaitu mengemut jarinya.

4. Modifikasi Perilaku Subyek

Untuk merubah perilaku si subyek, kami mencoba teknik Punishment karena lebih cocok bagi si subyek yang sering memasukan jarinya kedalam mulutnya yang langsung observer pukul atau menepak tangan si subyek yang sedang ada di dalam mulutnya. Dengan kategori hukuman Pain Inducing Punisher yang memberikan hukuman fisik dengan rasa sakit yang tidak nyaman pada subyek saat tangan si subyek di tepak oleh observer.

Ada juga kami menggunakan kategori hukuman seperti Reprimands yang sifatnya verbal seperti berbicara : “turunin gag tangannya !!” sambil menatap tajam si subyek namun tetap saja tangan tersebut turun hanya sebentar saja.

Setelah kedua kategori hukuman dilakukan, subyek sedikit merubah perilaku tersebut yang tadinya agak lama tangan tersebut berada dimulutnya, sekarang sudah mulai berkurang bila sedang bersama dengan observer yang melakukan kegiatan tersebut hampir sebulan.

G. Hasil Dari Kegiatan Modifikasi Perilaku

Bahwa si subyek dapat mengurangi kegiatan mengemut jarinya tersebut walau hanya sedikit sekali progress perubahannya.

H. Daftar Pustaka

Anonim. 2010. http://id.wikipedia.org/wiki/Modifikasi_perilaku

Anonim. 2010. Tahap Perkembangan Masa Oral. mages.dhidut1809.multiply. multiplycontent.com/.../Tahap%20perkembangan%20kepribadian%20menurut%20freud.doc...

Anne. 2010. Fase perkembangan. http://www.psikologizone.com/fase-fase-perkembangan-manusia.

Baraja, A. 2007. Psikologi Perkembangan : Tahapan dan aspek- aspeknya , mulai dari 0 sampai akhil baligh. Jakarta: Studia Press

tim kreatif

MARIESYA ADALEA, MIETA PURNAMASARI, NOVI KUSUMAWARDANI , PUTRA BAYU GUSTAMA , WENNY JUNILAWATi, MARIA CHRISNATALIA


hkhhjhj

saat hati ini hati terasa bergejolak karena lagu2 yang sendu...
rasanya seperti isi hati selama ini atau cuma terbawa emosi belaka
gag karuann rasanya...
seballl
mana PI belom beres lagiii??
sebaaallll

Jumat, 21 Mei 2010

yang terjadi pada saia

maaf ya blog ku...
kamu selalu menjadi tempat saya mencurahkan isi hati, supaya tidak terlihat khalayak ramai...
walaupun beberapa ada yang tau blog saia...

pergelakan telapak kaki saia sakit setelah bermain futsal kemarin baru terasa tadi pagi saia tidak bisa menuruni anak tangga d kosan, sakit banget rasanya..
tapi mau tidak mau saya harus menuruni tangga tersebut bila mau beraktivitas...
saya mencoba bertahan, gag tau lagi harus ngeluh kemana, toh saya bisa mencoba lakukan sendiri tanpa adanya siapa2, percuma ngeluh ke orang tapi klo dya gag respect sama juga boong!!
hah!!
futsal menyenangkan tapi membuat dada sesak dan pergelangan telapak kaki menjadi sakit, mana harus ke kampus sebelah, padahal aku hanya mau istirahat di tempatku ini perpustakaan...
memang semua itu butuh pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu agar bisa selaras....
TUHAN buat kakiku seperti dulu lagi, gag mau kenapa2 dengan kaki ini...

masa ada yg bilang dy sk, tapi gag ngomong langsung bisa nya lewat telpon..
biasanya klo gtu gag serius, ampe sekarang aja gag tau dya serius pa engga...
sial!!!



Senin, 17 Mei 2010

manusia dan mesin

Manusia dengan mesin merupakan hal yang tidak dapat di pisahkan,

Manusia membutuhkan mesin untuk mempermudah pekerjaan mereka yang sulit bila di lakukan oleh manusia itu sendiri…

Kadang dengan adanya mesin manusia jadi lebih mengandalkan alat tersebut dan kurang memperhatikan penggunaan mesin tersebut karena kurang di rawat agar mesin dapat bekerja dengan lebih baik.

contoh dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menggunakan blender untuk menghancurkan buah agar menjadi segelas jus atau sari buah. sebelum buah tersebut kita hancurkan kita harus mengupas terlebih dahulu, itu membuat pengerjaan tersebut menjadi lama dan kurang praktis.

kini terdapat alat pembuat sari buah yang tidak perlu mengupas, hanya langsung menaruh buah di tempat penghancurannya lalu di sisi lain terdapat gelas untuk menampung hasil penghancuran buah tersebut. sehingga tidak perlu mengupas dan menyiapkan air untuk menghancurkan buah tersebut.



Kamis, 29 April 2010

hargai saya sebagai teman!!

gila ya, belakangan ini g berasa gag di hargai ma orang2 yang ada d sekitar g, g gag tau apa yang salah ma g...
bilang klo mang g salah!!!

berasa cuma d manfaatin karena g, bisa tembus sana-sini....
hargai atas apa yang g buat, jangan maunya beres ajaa...
semua itu ada usaha klo mau hasil yang baik,...

Minggu, 25 April 2010

kepadatan, kesesakan, personal space

Kereta merupakan salah satu alat transportasi yang sering di gunakan beberapa orang yang tinggal di pinggiran jakarta, mereka memanfaatkan kereta karena harganya murah atau juga karena efisiensi waktu tempuh yang lebih cepat dibandinkan dengan kendaraan lain. Berikut ini artikel mengenai keadaan kereta kita sekarang ini.

indosiar.com, Jakarta- Kereta api adalah alat transportasi cepat dan juga murah bagi sebagian warga yang tinggal di wilayah Jabotabek. Namun sayangnya, jumlah KRL yang ada tidak sebanding dengan kebutuhan warga masyarakat.
Kepadatan itu akhirnya menimbulkan kenekatan disebagian penumpang, yakni dengan duduk diatas atap KRL. Padahal risikonya sangat tinggi bagi keselamatan diri mereka sendiri. Pada KRL jalur Jakarta - Bogor misalnya, dalam satu minggu diperkirakan dua korban tersengat listrik atau jatuh.
Kepadatan kota Jakarta serta pesatnya pertumbuhan permukiman di luar kota Jakarta, menimbulkan masalah kemacetan lalu lintas yang mengharuskan para pekerja berangkat lebih awal dan menempuh jarak tempuh berjam-jam, agar bisa sampai ketempat tujuan.
Angkutan Kereta Rel Listrik (KRL) akhirnya, menjadi salah satu alternatif angkutan bagi mereka yang tinggal di pinggiran Jakarta. Angkutan ini, akhirnya menjadi angkutan favorit karena cepat dan murah. Setiap harinya, ratusan ribu penumpang KRL memenuhi 60 stasiun di wilayah Jakarta, Bogor, Depok Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek).
Menurut Kepala Humas Daop Satu Jabotabek PT KAI, Zainal Abidin, diperkirakan 400 hingga 450 ribu penumpang Jabotabek yang dilayani sebanyak 228 KRL. Jalur yang banyak dilayani kereta rel listrik adalah Jakarta - Bogor sekitar pukul 6 hingga 8 pagi.
Karcis yang terjual sebanyak 26 ribu setiap hari dan hanya dilayani 9 kereta ekonomi, sehingga membuat setiap gerbongnya harus mengangkut penumpang 171 persen melebihi kapasitas. Hal inilah yang kemudian menimbulkan kenekatan penumpang KRL, dengan menaiki atap kereta padahal resiko untuk kesetrum dan terjatuh sangat rentang, buat para penumpang yang menaiki atap kereta.
Bulan lalu, nyawa seorang pemuda warga Jalan Kemuning, Kelurahan Pancoran Mas Depok, harus hilang dengan sia-sia. Korban tersengat listrik tegangan tinggi, diatas KRL jurusan Bogor - Jakarta. Kejadian ini sebenarnya bukan yang pertama kali, namun peristiwa itu tidak membuat jera para penumpang untuk terus naik diatap kereta.
Sebagai penyelenggara tunggal, PT Kereta Api Indonesia setiap harinya harus menghadapi kenekatan pengguna jasa KRL, yang naik keatap kereta. Walaupun dengan ancaman kereta tidak akan diberangkatkan, mereka tetap menaiki kereta kembali setelah kereta akan beranjak jalan. Kenekatan para penumpang ini, harus dibayar sedikitnya 11 orang meninggal akibat tersengat listrik tahun 2002 lalu dan sebanyak 26 orang mengalami luka cukup berat 5 orang meninggal dunia serta 13 orang mengalami luka-luka akibat terbentur peron atau tiang listrik.
Berjubalnya penumpang kereta rel listrik, banyak disebabkan karena perkembangan infrastruktur kota yang banyak berpihak pada bis kota. Menyimpang dari masa tahun 1980-an, dimana kereta rel listik menjadi angkutan pertama disamping bis kota serta semakin meningkatnya pemukiman di pinggiran Jakarta.
Situasi ini akan menyebabkan kereta rel listrik ekonomi Jabotabek, akan terus dijejali penumpangnya. Atap kereta akan terus dipenuhi yang semakin sulit untuk ditertibkan dan nyawa yang hilang sia-sia akan terus berjatuhan.
Sikap berani adalah sikap yang patut dihargai, namun bukan berarti sikap itu lalu diwujudkan menjadi kenekatan yang tidak berdasar seperti naik diatas atap KRL. Nyawa hilang keluarga yang ditinggalkan pun terduka.(Idh)
Salah satu dari penumpang kereta api adalah mahasiswa, yang kuliah di sekitar depok mereka menggunakan transportasi kereta api, dan rata- rata rute yang ditempuh sebagian besar dari mereka, Jakarta – Bogor atau sebaliknya. Saat menggunakan kereta api tak jarang mereka harus berdesakan untuk dapat terangkut oleh kereta yang lewat, karena jika mereka tertinggal rangkaian tersebut mereka harus menunggu lama untuk kedatangan kereta berikutnya yang bisa saja, terjadi gangguan saat itu juga sehingga mereka harus kecewa karena sudah menunggu lama.

Dalam kepadatan itu tidak ada perduli sesama, semua orang egois untuk dirinya sendiri. Penumpangnya saja sudah padat, ditambah penjual yang sibuk menjajakkan jualannya dan tidak perduli dengan gerbong yang penuh sesak, belum lagi para pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari para penumpang kereta.

Yang dimaksud dengan kepadatan adalah hasil dari jumlah objek terhadap luas daerah. Sedangkan penumpang bisa saja merasa ruang personalnya terganggu. Kesesakan bisa saja terjadi dalam keadaan seperti itu, mau tidak mau mereka berdesakan untuk dapat terangkut.
Dari beberapa masalah tersebut, kami ingin mengetahui apakah yang di maksud dengan kepadatan, kesesakan serta ruang personal.

KEPADATAN (DENSITY)

A. Pengertian
- Menurut Sundstorm: Sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan.
- Menurut Sarwono: Suatau keadaan akan dikatakan semakin padat bila jumlah manusia pada suatu batas ruang tertentu semakin banyak dibandingkan luas ruanagan.

B. Kategori Kepadatan
1. Menurut Altman (Dalam studi tahun 1920-an): Variasi indicator kepadatan berhubungan dengan tingkah laku social:
• Jumlah individu dalam sebuah kota
• Jumlah Individu pada daerah sensus
• Jumlah individu pada unit tempat tinggal
• Jumlah ruangan pada unit tempat tinggal
• Jumlah bangunan pada lingkungan sekitar

2. Menurut Jain (1987) : Tingkat kepadatan penduduk dipengaruhi oleh unsur-unsur:
• Jumlah individu pada setiap ruang
• jumlah ruang pada setiap unit rumah tinggal
• Jumlah unit rumah tinggal pada setiap struktur human
• Jumlah struktur hunian pada setiap wilayah pemukiman
 Teori Kepadatan Menurut Halohan
1. Kepadatan Spasial (Spatial Density)
Terjadi bila besar atau luas ruangan diubah menjadi lebih kecil atau sempit, sedangkan jumlah individu tetap.
2. Kepadatan Sosial (Social Density)
Terjadi bila jumlah individu ditambaha tanpa diiringi penambahan luas ruang.

 Teori Kepadatan Menurut Altman
1. Kepadatan Dalam (Inside Density)
Jumlah individu dalam suatu ruangan atau tempat tinggal.
2. Kepadatan Luar (Outside Density)
Sejumlah individu yang berada pada suatu wilayah tertentu.

C. Akibat Kepadatan Yang Tinggi
1. Menurut Taylor:
- Lingkungan sekitar merupakan sumber yang penting dalam mempengaruhi sikap, perilaku dan keadaan internal individu disuatu tempat tinggal.
- Rumah danLingkungan Pemukiman yaitu yang nyaman member kepuasaan psikis.

2. Menurut Schorr : Kualitas Pemukiman
• Mempengaruhi persepsi diri, stress, kesehatan fisik.
• Mempengaruhi perilaku dan sikap individu
3. Heimstra dan Mc. Farling, akibat kepadatan:
• Fisik
• Akibat Sosial
• Akibat Psikis

Selain kepadatan kesesakan mempengaruhi keadaan saat kereta penuh oleh penumpang yang berjubel untuk dapat naik kereta tersebut. Nah, apa yang mempengaruhi kesesakan itu terjadi? Kenapa mereka rela berdesak – desakan naik kereta?

KESESAKAN
Kesesakan adalah persepsi individu terhadap keterbatasan ruang, bersifat psikis terjadi bila mekanisme privasi individu gagal berfungsi dengan baik.
1. Menurut Altman :
Kesesakan adalah suatu proses interpersonal pada tingkatan interaksi manusia dalam suatu pasangan atau kelompok kecil.

2. Menurut Baum dan Paulus:
Kepadatan dapat dirasa sebagi kesesakan atau tidak, ditentukan oleh penilaian individu berdasarkan :
a. Karakteristik setting fisik
b. Karakteristik setting social
c. Karakteristik personal
d. Kemampuan beradaptasi

3. Menurut Morris:
Kesesakan sebagai devisit suatu ruang.

4. Menurut Ancok:
Kesesakan timbul dari besar kecilnya ukuran rumah yaitu menentukan besarnya rasio antara penghuni dan tempat (space) yang tersedia.

5. Menurut Stokols:
a. Kesesakan bukan social (nonsosial crowding)
Faktor-faktor fisik menghasilkan perasaan terhadap ruang yang tidak sebanding.
b. Kesesakan Social (social crowding)
Perasaan sesak mula-mula datang dari kehadiran orang lain yang terlalu banyak.
c. Kesesakan Molar ( Molar crowding)
Perasaan sesak yaitu dapat dihubungkan dengan skala luas, populasi penduduk.
d. Kesesakan Molekuler (Moleculer crowding)
Perasaan sesak yaitu menganalisis mengenai individu, kelompok kecil dan kejadian-kejadian interpersonal.

6. Menurut Rapoport:
Kesesakan adalah suatu evaluasi subjektif dimana besarnya ruang dirasa tidak mencukupi. Batasan kesesakan melibatkan persepsi seseorang terhadap keadaan ruang yang dikaitkan dengan kehadiran sejumlah manusia. Dimana ruang yang tersedia dirasa terbatas atau jumlah manusianya yang dirasa terlalu banyak.

A. Teori-Teori kesesakan
1. Teori Beban Stimulus
Kesesakan akan terjadi bila stimulus yang diterima individu terlalu banyak (melebihi kapasitas kognitifnya) sehingga timbul kegagalan dalam memproses stimulus atau info dari lingkungan.

Menurut Keating, Stimulus adalah Hadirnya banyak orangdan aspek-aspek interaksinya, kondisi lingkungan fisik yang menyebabkan kepadatan social.
Informasi yang berlebihan dapat terjadi karena:
a. Kondisi lingkungan fisik ytang tidak menyenangkan
b. Jarak antar individu ( dalam arti fisik) yang terlalu dekat.
c. Suatu percakapan yang tidak dikehendaki.
d. Terlalu banyak mitra interaksi.
e. Interaksi yang terjadi dirasa terlalu dalam atau terlalu lama.

2. Teori Ekologi
Membahas kesesakan dari sudut proses social.
a) Menurut Micklin:
Sifat-sifat umum model pada ekologi manusia :
1. Teori ekologi perilaku: Fokus pada hubungan timbale balik antara orang dengan lingkungan.
2. Unit analisisnya : Kelompok social, bukan individu dan organisasi social memegang peranan penting.
3. Menekankan pada distribusi dan pengunaan sumber-sumber material dan social.
b) Menurut Wicker,
Teori Manning: Kesesakan tidak dapat dipisahkan dari factor setting dimana hal itu terjadi.

3. Teori Kendala Prilaku
Kesesakan terjadi karena adanya kepadatan sedemikian rupa sehingga individu merasa terhambat untuk melakukan sesuatu.Kesesakan akan terjadi bila system regulasi privasi seseorang tidak berjalan secara efektif lebih banyak kontak social yang tidak diinginkan. Kesesakan timbul karena ada usaha-usaha yang terlalu banyak, yang butuh energy fisik maupun psikis, guna mengatur tingkat interaksi yang diinginkan.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesesakan
1. Faktor personal
a. Kontrol Pribadi dan Locus Of Control
Selligman,dkk: kepadatan meningkat bisa menghasilkan kesesakan bila individu sudah tidak punya control terhadap lingkungan sekitarnya.
Kontrol Pribadi dapat mengurangi kesesakan.
Locus Of Control internal: Kecenderungan individu untuk mempercayai (atau tidak mempercayai) bahwa keadaan yang ada didalam dirinya lah yang berpengaruh kedalam kehidupannya.



b. Budaya, pengalaman dan proses adaptasi
Menurut Sundstrom: Pengalaman pribadi dalam kondisi padat mempengaruhi tingkat toleransi
Menurut Yusuf: Kepadatan meningkat menyebabkan timbulnya kreatifitas sebagai intervensi atau upaya menekankan perasaan sesak.

c. Jenis Kelamin dan usia
- Pria lebih reaktif terhadap kondisi sesak
- Perkembangan, gejala reaktif terhadap kesesakan timbul pada individu usia muda.

2. Faktor Sosial
a. Kehadiran dan perilaku oranglain
b. Formasi Koalisi
c. Kualitas hubungan
d. Informasi yang tersedia

3. Faktor Fisik
- Goves dan Hughes: Kesesakan didalam rumah berhubungan dengan factor-faktor fisik, jenis rumah, urutan lantai, ukuran, suasana sekitar.
- Altman dan Bell, dkk: Suara gaduh, panas, polusi, sifat lingkungan, tipe suasana, karakteristik setting mempengaruhi kesesakan.

C. Pengaruh Kesesakan Terhadap Perilaku
Lingkungan sesak => aktifitas seseorang terganggu => interaksi interpersonal yang tidak diinginkan => mengganggu individu mencapai tujuan => gangguan norma meningkat ketidaknyamanan => penarikan diri dan menurunnya kualitas hidup.




Pengaruh Negatif Kesesakan:
• Penurunan-Penurunan Psikologis: perasaan kurang nyaman, stress, cemas, suasana hati yang kurang baik, prestasi menurun, agresifitas meningkat, dan lain-lain.
• Malfungsi Fisiologis: Meningkatnya tekanan darah dan detak jantung, penyakit-penyakit fisik.
• Hubungan Sosial Individu: Kenakalan remaja, menurunnya sikap gotong royong, menarik diri, berkurangnya intensitas hubungan social, dll.


Asumsi Konsekuensi Negatif dari Kesesakan:
1. Model Beban Stimulus
2. Model Kendala Perilaku
3. Model Ekologi
Perilaku negative akibat sesak dan padat hanya terjadi pada situasi dimana pilihan-pilihan yang tersedia sedikit.
4. Model Atribusi
Akibat negative kepadatan dan kesesakan hanya terjadi pada tempat dan situasi tertentu.
5. Model Aurosal
Kepadatan dan kesesakan menyebabkan terstimulinya perangkat-perangkat fisiologis tekanann darah meningkat.

Selain kesesakan yang terjadi dalam gerbong kereta api hal yang dibutuhkan penumpang yaitu, ruang personal dimana mereka kurang merasakan adanya ruang personal dalam keadaan himpit- himpitan, apa ruang personal itu??

PERSONAL SPACE
Istilah personal space pertama kali digunakan oleh Katz pada tahun 1973 dan bukan merupakan sesuatu yang unik dalam istilah psikologi, karena istilah ini juga dipakai dalam bidang biologi, antropologi, dan arsitektur (Yusuf, 1991).

Selanjutnya dikatakan bahwa studi personal space merupakan tinjauan terhadap perilaku hewan dengan cara mengamati perilaku mereka berkelahi, terbang, dan jarak social antara yang satu dengan yang lain. Kajian ini kemudian ditransformasikan dengan cara membentuk pembatas serta dapat pula diumpamakan semacam gelembung yang mengelilingi individu dengan individu yang lain.

1. Pengertian Ruang Personal
A. Menurut Sommer
Ruang personal adalah daerah disekeliling seseorang dengan batas – batas yang tidak jelas dimana seseorang tidak boleh memasukinya.

B. Goffman
menggambarkan ruang personal sebagai jarak/daerah di sekitar individu dimana jika dimasuki orang lain, menyebabkan ia akan merasa batasnya dilanggar, merasa tidak senang, dan kadang – kadang menarik diri.

Beberapa definisi ruang personal secara implicit berdasrkan hasil – hasil penelitian, antara lain :
a. Ruang personal adalah batas – batas yang tidak jelas antara seseorang dengan orang lain.
b. Ruang personal sesungguhnya berdekatan dengan diri sendiri.
c. Pengaturan ruang personal merupakan proses dinamis yang memungkinkan diri kita keluar darinya sebagai suatu perubahan situasi.
d. Ketika seseorang melanggar ruang personal orang lain, maka dapat berakibat kecemasan, stress, dan bahkan perkelahian.
e. Ruang personal berhubungan secara langsung dengan jarak – jarak antar manusia, walaupun ada tiga orientasi dari orang lain ; berhadapan, saling membelakangi dan searah.



2. Zona Interaksi Sosial
Menurut Edward T. Hall, seorang antropolog, bahwa dalam interaksi social terdapat empat zona spasial yang meliputi : jarak intim, jarak personal, jarak social, dan jarak public.
A. Jarak Intim
• Jarak yang dekat/akrab atau keakraban dengan jarak 0 – 18 inci.
• Pada jarak 0 – 6 inci, kontak fisik merupakan hal yang penting.
• Jarak yang diperuntukkan pada “intimate lovers”
• Menyenangkan ketika berinteraksi dengan orang lain yang dicintai, tidcak menyenangkan dalam situasi yang lain.

B. Jarak Pribadi
• Karakteristik keregangan yang biasa dipakai individu satu sama lain.
• Jarak antara 1,5 – 4 kaki
• Fase dekat (1,5 – 2,5 kaki) dan fase jauh (2,5 – 4 kaki)
• Fase dekat : masih memungkinkan pertukaran sentuhan, bau, pandangan, dan isyarat – isyarat lainnya.
• Fase jauh : jarak dimana masing – masing orang dapat saling menyentuh dengan mengulurkan tangan. Komunikasi halus (fine grain communication) masih dapat diamati.
• Transisi antara kontak intim dengan tingkah laku umum yang agak formal.

C. Jarak Sosial
• Jarak 4 – 12 kaki
• Jarak yang memungkinkan terjadinya kontak social yang umum, seperti hubungan bisnis.
• Fase dekat (4 – 7 kaki)
• Fase jauh (7 – 12 kaki)

D. Zona Publik
• Jarak 12 – 25 kaki
• Isyarat – isyarat komunikasi sedikit
• Situasi formal atau pembicaraan umum / orang – orang yang berstatus lebih tinggi.
Dari beberapa penjelasan di atas mengenai keadaan kereta api yang tak kunjung sepi maupun membuat kita nyaman dalam menggunakannya. Mau tidak mau kita gunakan sehari- hari untuk memulai aktifitas ke tempat yang menjadi tujuan kita, walaupun harus berdesakan untuk dapat terangkut oleh kereta tersebut.

tim penulis 3pa04