Tampilkan postingan dengan label tugas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Juni 2010

modifikasi perilaku mengemut jari

A. Latar Belakang Masalah

Kebiasaan dari seseorang bisa berbeda-beda. Ada yang suka menggigiti kukunya di saat-saat tertentu, ada pula yang masih menggunakan dot untuk meminum susu padahal seharusnya bukan menggunakan dot kembali untuk meminum susu, bahkan saat usia dewasapun masuh terdapat seseorang yang menggunakan jari tangannya untuk mengemutnya. Hal tersebut yang akan kami angkat dalam penelitian kami untuk merubah perilaku orang yang tadinya suka mengemut jari untuk di ubah dengan tidak mengemut jarinya lagi ataupun dialihkan dengan kegiatan positif yang membuatnya lupa akan kebiasaannya tersebut.

Kegiatan mengemut jari merupakan kegiatan yang seharusnya dilakukan saat usia perkembangan memasuki usia 18 bulan pertama setelah lahir, yang dimana kebutuhan akan oral seharusnya terpenuhi. Namun hal tersebut masih terjadi saat usia 21 tahun yang mengemut jarinya saat tidak ada orang yang melihatnya.

Kebiasaan mengemut jari dilakukan seseorang pada saat-saat tertentu yang tidak terlihat orang ataupun dilakukan saat orang terdekatnya saja yang melihat, si subyek jarang menunjukan hal tersebut pada orang yang belum ia kenal.

Bahkan bila subyek sudah kenal betul dengan orang disampingnya ia bisa menunjukan jari yang penuh dengan air liur kepada orang yang disampingnya bahkan tak enggan untuk menaruh air liurnya tersebut di baju orang yang berada disampingnya.


B. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apa yang menjadi kebiasaan seseorang dan berusaha untuk merubah sedikit dari kebiasaan orang tersebut.

C. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian ini memberikan gambaran bahwa kebiasaan dari setiap orang berbeda-beda yang yang baik menurutnya namun yang yang kurang baik dimata orang yang melihatnya.

2. Manfaat Teoritis

Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kebiasaan seseorang yang berbeda, dan dapat digunakan sebagai acuan peneliti lain untuk meneliti lebih lanjut.

D. Pembahasan

1. Perkembangan Masa Oral

Tahapan ini berlangsung selama 18 bulan pertama kehidupan.
Mulut merupakan sumber kenikmatan utama. Dua macam aktivitas oral di sini, yaitu menggigit dan menelan makanan, merupakan prototype bagi banyak ciri karakter yang berkembang di kemudian hari. Kenikmatan yang diperoleh dari inkorporasi oral dapat dipindahkan ke bentuk-bentuk inkorporasi lain, seperti kenikmatan menggiti kuku jarinya ataupun mengemut/ menghisap jarinya.

Pada fase ini mulut merupakan daerah pokok aktivitas dinamik atau daerah kepuasan seksual yang dipilih oleh insting seksual. Makan/minum menjadi sumber kenikmatannya. Kenikmatan atau kepuasan diperoleh dari ransangan terhadap bibir-rongga mulut-kerongkongan, tingkah laku menggigit dan menguyah (sesudah gigi tumbuh), serta menelan dan memuntahkan makanan (kalau makanan tidak memuaskan). Kenikmatan yang diperoleh dari aktivitas menyuap/menelan (oral incorforation) dan menggigit (oral agression) dipandang sebagai prototip dari bermacam sifat pada masa yang akan datang. Kepuasan yang berlebihan pada masa oral akan membentuk oran incorporation personality pada masa dewasa, yakni orang menjadi senang/fiksasi mengumpulkan pengetahuan atau mengumpulkan harta benda, atau gampang ditipu (mudah menelan perkataan orang lain. Sebaliknya, ketidakpuasan pada fase oral, sesudah dewasa orang menjadi tidak pernah puas, tamak (memakan apa saja) dalam mengumpulkan harta. Oral agression personality ditandai oleh kesenangan berdebat dan sikap sarkatik, bersumber dari sikap protes bayi (menggigit) terhadap perlakuan ibunya dalam menyusui. Mulut sebagai daerah erogen, terbawa sampai dewasa dalam bentuk yang lebih bervariasi, mulai dari menguyah permen karet, menggigit pensil, senang makan, menisap rokok, menggunjing orang lain, sampai berkata-kata kotor/sarkastik. Tahap ini secara khusus ditandai oleh berkembangnya perasaan ketergantungan, mendapat perindungan dari orang lain, khususnya ibu. Perasaan tergantung ini pada tingkat tertentu tetap ada dalam diri setiap orang, muncul kapan saja ketika orang merasa cemas dan tidak aman pada masa yang akan datang menurut freud (dalam Anne,2010).

2. Modifikasi Perilaku

Perilaku menunjuk kepada teknik mengubah perilaku, seperti mengubah perilaku dan reaksi seseorang terhadap suatu stimulus melalui penguatan perilaku adaptif danatau penghilangan perilaku maladaptif melalui hukuman. Istilah ini pertama kali digunakan oleh Edward Thorndike pada tahun 1911 dalam artikelnya Provisional laws of acquired behavior or learning.

Eksperimen psikologi klinis menggunakan istilah modifikasi perilaku untuk merujuk pada teknik psikoterapi khususnya untuk meningkatkan perilaku adaptif dan menghilangkan yang maladaptif. Dua istilah lain yang berhubungan adalah terapi perilaku dan analisis perilaku. Dalam hal ini, beberapa penulis, menganggap bahwa modifikasi perilaku cakupannya lebih luas dibanding dua metode perubahan perilaku lainnya.

E. Metode Penelitian

1. Subyek

Subyek dalam penelitian ini adalah mahasiswa berusia 21 tahun, berjenis kelamin laki-laki, yang sedang melakukan kegiatan studinya di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta.

2. Teknik Pengumpulan data

Adapun teknik pengumpulan datanya mengunakan teknik observasi dan wawancara.


F. Pelaksanaan Hasil Penelitian

1. Penjelasan mengenai kebiasaan yang dilakukan subyek

Adapun pelaksanaan penelitian dilakukan saat observer bersama dengan subyek untuk pergi bersama ke suatu tempat, dan saat subyek berada di rumah untuk mengetahui kebiasaan mengemut jarinya saat apa saja dilakukan bila sedang dirumah.

2. Kegiatan Observasi

Peneliti melakukan observasi saat pergi bersama dengan subyek dalam setengah jam pertama subyek melakukan kebiasaan mengemut jari tersebut sebanyak 9 kali, adapun datanya sebagai berikut

No

Waktu

Lamanya (dalam menit

1

17.30

7

2

17.39

2

3

17.41.

2

4

17.44

1

5

17.45

1

6

17.47

1

7

17.49

1

8

17.50

3

9

17.56

2

Keesokan harinya subyek kembali pergi dengan observer. Kemudian observer mencatat kembali kebiasaan yang dilakukan subyek selama 20 menit subyek melakukan kebiasaan tersebut selama 4 kali, adapun datanya sebagai berikut:

No

Waktu

Lamanya (dalam menit)

1

15.34

5

2

15.36

1

3

15.38

3

4

15.41

2

Kegiatan tersebut subyek lakukan bila bersama orang yang sudah dekat dengannya atupun terjadi saat-saat subyek tidak sedang melakukan kegiatan yang rutin, dalam keadaan mencari bukupun subyek dapat mengemut jarinya tersebut, tanpa ada orang lain yang melihatnya. Bahkan saat dilarang subyekpun memberikan jarinya yang penuh dengan air liur ke observer yang melarangnya untuk mengemut jarinya tersebut.

3. Kegiatan wawancara

a. Dengan Subyek

Wawancara dilakukan saat pewawancara sedang pergi dengan subyek. Subyek memberitahukan kegiatan yang dilakukannya itu sudah lama ia lakukan, hal tersebut ia lakukan hanya bersama orang yang sudah kenal betul dengannya atau saat tertentu yang orang lain tidak lihat. Biasanya setelah mengemut jari tersebut subyek suka memeperkan pada orang yang berada di sampingnya.

b. Orang Tua Subyek

Wawancara dilakukan dirumah subyek. Orang tua dari si subyek menjelaskan bahwa kegiatan yang subyek lakukan sudah dijalankan sejak subyek dari kecil. Orang tua subyek tidak tahu persis kenapa hal tersebut dilakukan oleh subyek.

Orang tua subyek sudah mencoba berbagai cara seperti memberikan brotowali ke jari subyek bahkan hingga minyak kayu putih, agar subyek tidak lagi mengemut jarinya, namun hal tersebut percuma untuk dilakukan karena si subyek akan mencuci jarinya tersebut untuk melakukan hal yang ia senangi, yaitu mengemut jarinya.

4. Modifikasi Perilaku Subyek

Untuk merubah perilaku si subyek, kami mencoba teknik Punishment karena lebih cocok bagi si subyek yang sering memasukan jarinya kedalam mulutnya yang langsung observer pukul atau menepak tangan si subyek yang sedang ada di dalam mulutnya. Dengan kategori hukuman Pain Inducing Punisher yang memberikan hukuman fisik dengan rasa sakit yang tidak nyaman pada subyek saat tangan si subyek di tepak oleh observer.

Ada juga kami menggunakan kategori hukuman seperti Reprimands yang sifatnya verbal seperti berbicara : “turunin gag tangannya !!” sambil menatap tajam si subyek namun tetap saja tangan tersebut turun hanya sebentar saja.

Setelah kedua kategori hukuman dilakukan, subyek sedikit merubah perilaku tersebut yang tadinya agak lama tangan tersebut berada dimulutnya, sekarang sudah mulai berkurang bila sedang bersama dengan observer yang melakukan kegiatan tersebut hampir sebulan.

G. Hasil Dari Kegiatan Modifikasi Perilaku

Bahwa si subyek dapat mengurangi kegiatan mengemut jarinya tersebut walau hanya sedikit sekali progress perubahannya.

H. Daftar Pustaka

Anonim. 2010. http://id.wikipedia.org/wiki/Modifikasi_perilaku

Anonim. 2010. Tahap Perkembangan Masa Oral. mages.dhidut1809.multiply. multiplycontent.com/.../Tahap%20perkembangan%20kepribadian%20menurut%20freud.doc...

Anne. 2010. Fase perkembangan. http://www.psikologizone.com/fase-fase-perkembangan-manusia.

Baraja, A. 2007. Psikologi Perkembangan : Tahapan dan aspek- aspeknya , mulai dari 0 sampai akhil baligh. Jakarta: Studia Press

tim kreatif

MARIESYA ADALEA, MIETA PURNAMASARI, NOVI KUSUMAWARDANI , PUTRA BAYU GUSTAMA , WENNY JUNILAWATi, MARIA CHRISNATALIA


Senin, 17 Mei 2010

manusia dan mesin

Manusia dengan mesin merupakan hal yang tidak dapat di pisahkan,

Manusia membutuhkan mesin untuk mempermudah pekerjaan mereka yang sulit bila di lakukan oleh manusia itu sendiri…

Kadang dengan adanya mesin manusia jadi lebih mengandalkan alat tersebut dan kurang memperhatikan penggunaan mesin tersebut karena kurang di rawat agar mesin dapat bekerja dengan lebih baik.

contoh dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu menggunakan blender untuk menghancurkan buah agar menjadi segelas jus atau sari buah. sebelum buah tersebut kita hancurkan kita harus mengupas terlebih dahulu, itu membuat pengerjaan tersebut menjadi lama dan kurang praktis.

kini terdapat alat pembuat sari buah yang tidak perlu mengupas, hanya langsung menaruh buah di tempat penghancurannya lalu di sisi lain terdapat gelas untuk menampung hasil penghancuran buah tersebut. sehingga tidak perlu mengupas dan menyiapkan air untuk menghancurkan buah tersebut.



Minggu, 25 April 2010

kepadatan, kesesakan, personal space

Kereta merupakan salah satu alat transportasi yang sering di gunakan beberapa orang yang tinggal di pinggiran jakarta, mereka memanfaatkan kereta karena harganya murah atau juga karena efisiensi waktu tempuh yang lebih cepat dibandinkan dengan kendaraan lain. Berikut ini artikel mengenai keadaan kereta kita sekarang ini.

indosiar.com, Jakarta- Kereta api adalah alat transportasi cepat dan juga murah bagi sebagian warga yang tinggal di wilayah Jabotabek. Namun sayangnya, jumlah KRL yang ada tidak sebanding dengan kebutuhan warga masyarakat.
Kepadatan itu akhirnya menimbulkan kenekatan disebagian penumpang, yakni dengan duduk diatas atap KRL. Padahal risikonya sangat tinggi bagi keselamatan diri mereka sendiri. Pada KRL jalur Jakarta - Bogor misalnya, dalam satu minggu diperkirakan dua korban tersengat listrik atau jatuh.
Kepadatan kota Jakarta serta pesatnya pertumbuhan permukiman di luar kota Jakarta, menimbulkan masalah kemacetan lalu lintas yang mengharuskan para pekerja berangkat lebih awal dan menempuh jarak tempuh berjam-jam, agar bisa sampai ketempat tujuan.
Angkutan Kereta Rel Listrik (KRL) akhirnya, menjadi salah satu alternatif angkutan bagi mereka yang tinggal di pinggiran Jakarta. Angkutan ini, akhirnya menjadi angkutan favorit karena cepat dan murah. Setiap harinya, ratusan ribu penumpang KRL memenuhi 60 stasiun di wilayah Jakarta, Bogor, Depok Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek).
Menurut Kepala Humas Daop Satu Jabotabek PT KAI, Zainal Abidin, diperkirakan 400 hingga 450 ribu penumpang Jabotabek yang dilayani sebanyak 228 KRL. Jalur yang banyak dilayani kereta rel listrik adalah Jakarta - Bogor sekitar pukul 6 hingga 8 pagi.
Karcis yang terjual sebanyak 26 ribu setiap hari dan hanya dilayani 9 kereta ekonomi, sehingga membuat setiap gerbongnya harus mengangkut penumpang 171 persen melebihi kapasitas. Hal inilah yang kemudian menimbulkan kenekatan penumpang KRL, dengan menaiki atap kereta padahal resiko untuk kesetrum dan terjatuh sangat rentang, buat para penumpang yang menaiki atap kereta.
Bulan lalu, nyawa seorang pemuda warga Jalan Kemuning, Kelurahan Pancoran Mas Depok, harus hilang dengan sia-sia. Korban tersengat listrik tegangan tinggi, diatas KRL jurusan Bogor - Jakarta. Kejadian ini sebenarnya bukan yang pertama kali, namun peristiwa itu tidak membuat jera para penumpang untuk terus naik diatap kereta.
Sebagai penyelenggara tunggal, PT Kereta Api Indonesia setiap harinya harus menghadapi kenekatan pengguna jasa KRL, yang naik keatap kereta. Walaupun dengan ancaman kereta tidak akan diberangkatkan, mereka tetap menaiki kereta kembali setelah kereta akan beranjak jalan. Kenekatan para penumpang ini, harus dibayar sedikitnya 11 orang meninggal akibat tersengat listrik tahun 2002 lalu dan sebanyak 26 orang mengalami luka cukup berat 5 orang meninggal dunia serta 13 orang mengalami luka-luka akibat terbentur peron atau tiang listrik.
Berjubalnya penumpang kereta rel listrik, banyak disebabkan karena perkembangan infrastruktur kota yang banyak berpihak pada bis kota. Menyimpang dari masa tahun 1980-an, dimana kereta rel listik menjadi angkutan pertama disamping bis kota serta semakin meningkatnya pemukiman di pinggiran Jakarta.
Situasi ini akan menyebabkan kereta rel listrik ekonomi Jabotabek, akan terus dijejali penumpangnya. Atap kereta akan terus dipenuhi yang semakin sulit untuk ditertibkan dan nyawa yang hilang sia-sia akan terus berjatuhan.
Sikap berani adalah sikap yang patut dihargai, namun bukan berarti sikap itu lalu diwujudkan menjadi kenekatan yang tidak berdasar seperti naik diatas atap KRL. Nyawa hilang keluarga yang ditinggalkan pun terduka.(Idh)
Salah satu dari penumpang kereta api adalah mahasiswa, yang kuliah di sekitar depok mereka menggunakan transportasi kereta api, dan rata- rata rute yang ditempuh sebagian besar dari mereka, Jakarta – Bogor atau sebaliknya. Saat menggunakan kereta api tak jarang mereka harus berdesakan untuk dapat terangkut oleh kereta yang lewat, karena jika mereka tertinggal rangkaian tersebut mereka harus menunggu lama untuk kedatangan kereta berikutnya yang bisa saja, terjadi gangguan saat itu juga sehingga mereka harus kecewa karena sudah menunggu lama.

Dalam kepadatan itu tidak ada perduli sesama, semua orang egois untuk dirinya sendiri. Penumpangnya saja sudah padat, ditambah penjual yang sibuk menjajakkan jualannya dan tidak perduli dengan gerbong yang penuh sesak, belum lagi para pengemis yang mengharapkan belas kasihan dari para penumpang kereta.

Yang dimaksud dengan kepadatan adalah hasil dari jumlah objek terhadap luas daerah. Sedangkan penumpang bisa saja merasa ruang personalnya terganggu. Kesesakan bisa saja terjadi dalam keadaan seperti itu, mau tidak mau mereka berdesakan untuk dapat terangkut.
Dari beberapa masalah tersebut, kami ingin mengetahui apakah yang di maksud dengan kepadatan, kesesakan serta ruang personal.

KEPADATAN (DENSITY)

A. Pengertian
- Menurut Sundstorm: Sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan.
- Menurut Sarwono: Suatau keadaan akan dikatakan semakin padat bila jumlah manusia pada suatu batas ruang tertentu semakin banyak dibandingkan luas ruanagan.

B. Kategori Kepadatan
1. Menurut Altman (Dalam studi tahun 1920-an): Variasi indicator kepadatan berhubungan dengan tingkah laku social:
• Jumlah individu dalam sebuah kota
• Jumlah Individu pada daerah sensus
• Jumlah individu pada unit tempat tinggal
• Jumlah ruangan pada unit tempat tinggal
• Jumlah bangunan pada lingkungan sekitar

2. Menurut Jain (1987) : Tingkat kepadatan penduduk dipengaruhi oleh unsur-unsur:
• Jumlah individu pada setiap ruang
• jumlah ruang pada setiap unit rumah tinggal
• Jumlah unit rumah tinggal pada setiap struktur human
• Jumlah struktur hunian pada setiap wilayah pemukiman
 Teori Kepadatan Menurut Halohan
1. Kepadatan Spasial (Spatial Density)
Terjadi bila besar atau luas ruangan diubah menjadi lebih kecil atau sempit, sedangkan jumlah individu tetap.
2. Kepadatan Sosial (Social Density)
Terjadi bila jumlah individu ditambaha tanpa diiringi penambahan luas ruang.

 Teori Kepadatan Menurut Altman
1. Kepadatan Dalam (Inside Density)
Jumlah individu dalam suatu ruangan atau tempat tinggal.
2. Kepadatan Luar (Outside Density)
Sejumlah individu yang berada pada suatu wilayah tertentu.

C. Akibat Kepadatan Yang Tinggi
1. Menurut Taylor:
- Lingkungan sekitar merupakan sumber yang penting dalam mempengaruhi sikap, perilaku dan keadaan internal individu disuatu tempat tinggal.
- Rumah danLingkungan Pemukiman yaitu yang nyaman member kepuasaan psikis.

2. Menurut Schorr : Kualitas Pemukiman
• Mempengaruhi persepsi diri, stress, kesehatan fisik.
• Mempengaruhi perilaku dan sikap individu
3. Heimstra dan Mc. Farling, akibat kepadatan:
• Fisik
• Akibat Sosial
• Akibat Psikis

Selain kepadatan kesesakan mempengaruhi keadaan saat kereta penuh oleh penumpang yang berjubel untuk dapat naik kereta tersebut. Nah, apa yang mempengaruhi kesesakan itu terjadi? Kenapa mereka rela berdesak – desakan naik kereta?

KESESAKAN
Kesesakan adalah persepsi individu terhadap keterbatasan ruang, bersifat psikis terjadi bila mekanisme privasi individu gagal berfungsi dengan baik.
1. Menurut Altman :
Kesesakan adalah suatu proses interpersonal pada tingkatan interaksi manusia dalam suatu pasangan atau kelompok kecil.

2. Menurut Baum dan Paulus:
Kepadatan dapat dirasa sebagi kesesakan atau tidak, ditentukan oleh penilaian individu berdasarkan :
a. Karakteristik setting fisik
b. Karakteristik setting social
c. Karakteristik personal
d. Kemampuan beradaptasi

3. Menurut Morris:
Kesesakan sebagai devisit suatu ruang.

4. Menurut Ancok:
Kesesakan timbul dari besar kecilnya ukuran rumah yaitu menentukan besarnya rasio antara penghuni dan tempat (space) yang tersedia.

5. Menurut Stokols:
a. Kesesakan bukan social (nonsosial crowding)
Faktor-faktor fisik menghasilkan perasaan terhadap ruang yang tidak sebanding.
b. Kesesakan Social (social crowding)
Perasaan sesak mula-mula datang dari kehadiran orang lain yang terlalu banyak.
c. Kesesakan Molar ( Molar crowding)
Perasaan sesak yaitu dapat dihubungkan dengan skala luas, populasi penduduk.
d. Kesesakan Molekuler (Moleculer crowding)
Perasaan sesak yaitu menganalisis mengenai individu, kelompok kecil dan kejadian-kejadian interpersonal.

6. Menurut Rapoport:
Kesesakan adalah suatu evaluasi subjektif dimana besarnya ruang dirasa tidak mencukupi. Batasan kesesakan melibatkan persepsi seseorang terhadap keadaan ruang yang dikaitkan dengan kehadiran sejumlah manusia. Dimana ruang yang tersedia dirasa terbatas atau jumlah manusianya yang dirasa terlalu banyak.

A. Teori-Teori kesesakan
1. Teori Beban Stimulus
Kesesakan akan terjadi bila stimulus yang diterima individu terlalu banyak (melebihi kapasitas kognitifnya) sehingga timbul kegagalan dalam memproses stimulus atau info dari lingkungan.

Menurut Keating, Stimulus adalah Hadirnya banyak orangdan aspek-aspek interaksinya, kondisi lingkungan fisik yang menyebabkan kepadatan social.
Informasi yang berlebihan dapat terjadi karena:
a. Kondisi lingkungan fisik ytang tidak menyenangkan
b. Jarak antar individu ( dalam arti fisik) yang terlalu dekat.
c. Suatu percakapan yang tidak dikehendaki.
d. Terlalu banyak mitra interaksi.
e. Interaksi yang terjadi dirasa terlalu dalam atau terlalu lama.

2. Teori Ekologi
Membahas kesesakan dari sudut proses social.
a) Menurut Micklin:
Sifat-sifat umum model pada ekologi manusia :
1. Teori ekologi perilaku: Fokus pada hubungan timbale balik antara orang dengan lingkungan.
2. Unit analisisnya : Kelompok social, bukan individu dan organisasi social memegang peranan penting.
3. Menekankan pada distribusi dan pengunaan sumber-sumber material dan social.
b) Menurut Wicker,
Teori Manning: Kesesakan tidak dapat dipisahkan dari factor setting dimana hal itu terjadi.

3. Teori Kendala Prilaku
Kesesakan terjadi karena adanya kepadatan sedemikian rupa sehingga individu merasa terhambat untuk melakukan sesuatu.Kesesakan akan terjadi bila system regulasi privasi seseorang tidak berjalan secara efektif lebih banyak kontak social yang tidak diinginkan. Kesesakan timbul karena ada usaha-usaha yang terlalu banyak, yang butuh energy fisik maupun psikis, guna mengatur tingkat interaksi yang diinginkan.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesesakan
1. Faktor personal
a. Kontrol Pribadi dan Locus Of Control
Selligman,dkk: kepadatan meningkat bisa menghasilkan kesesakan bila individu sudah tidak punya control terhadap lingkungan sekitarnya.
Kontrol Pribadi dapat mengurangi kesesakan.
Locus Of Control internal: Kecenderungan individu untuk mempercayai (atau tidak mempercayai) bahwa keadaan yang ada didalam dirinya lah yang berpengaruh kedalam kehidupannya.



b. Budaya, pengalaman dan proses adaptasi
Menurut Sundstrom: Pengalaman pribadi dalam kondisi padat mempengaruhi tingkat toleransi
Menurut Yusuf: Kepadatan meningkat menyebabkan timbulnya kreatifitas sebagai intervensi atau upaya menekankan perasaan sesak.

c. Jenis Kelamin dan usia
- Pria lebih reaktif terhadap kondisi sesak
- Perkembangan, gejala reaktif terhadap kesesakan timbul pada individu usia muda.

2. Faktor Sosial
a. Kehadiran dan perilaku oranglain
b. Formasi Koalisi
c. Kualitas hubungan
d. Informasi yang tersedia

3. Faktor Fisik
- Goves dan Hughes: Kesesakan didalam rumah berhubungan dengan factor-faktor fisik, jenis rumah, urutan lantai, ukuran, suasana sekitar.
- Altman dan Bell, dkk: Suara gaduh, panas, polusi, sifat lingkungan, tipe suasana, karakteristik setting mempengaruhi kesesakan.

C. Pengaruh Kesesakan Terhadap Perilaku
Lingkungan sesak => aktifitas seseorang terganggu => interaksi interpersonal yang tidak diinginkan => mengganggu individu mencapai tujuan => gangguan norma meningkat ketidaknyamanan => penarikan diri dan menurunnya kualitas hidup.




Pengaruh Negatif Kesesakan:
• Penurunan-Penurunan Psikologis: perasaan kurang nyaman, stress, cemas, suasana hati yang kurang baik, prestasi menurun, agresifitas meningkat, dan lain-lain.
• Malfungsi Fisiologis: Meningkatnya tekanan darah dan detak jantung, penyakit-penyakit fisik.
• Hubungan Sosial Individu: Kenakalan remaja, menurunnya sikap gotong royong, menarik diri, berkurangnya intensitas hubungan social, dll.


Asumsi Konsekuensi Negatif dari Kesesakan:
1. Model Beban Stimulus
2. Model Kendala Perilaku
3. Model Ekologi
Perilaku negative akibat sesak dan padat hanya terjadi pada situasi dimana pilihan-pilihan yang tersedia sedikit.
4. Model Atribusi
Akibat negative kepadatan dan kesesakan hanya terjadi pada tempat dan situasi tertentu.
5. Model Aurosal
Kepadatan dan kesesakan menyebabkan terstimulinya perangkat-perangkat fisiologis tekanann darah meningkat.

Selain kesesakan yang terjadi dalam gerbong kereta api hal yang dibutuhkan penumpang yaitu, ruang personal dimana mereka kurang merasakan adanya ruang personal dalam keadaan himpit- himpitan, apa ruang personal itu??

PERSONAL SPACE
Istilah personal space pertama kali digunakan oleh Katz pada tahun 1973 dan bukan merupakan sesuatu yang unik dalam istilah psikologi, karena istilah ini juga dipakai dalam bidang biologi, antropologi, dan arsitektur (Yusuf, 1991).

Selanjutnya dikatakan bahwa studi personal space merupakan tinjauan terhadap perilaku hewan dengan cara mengamati perilaku mereka berkelahi, terbang, dan jarak social antara yang satu dengan yang lain. Kajian ini kemudian ditransformasikan dengan cara membentuk pembatas serta dapat pula diumpamakan semacam gelembung yang mengelilingi individu dengan individu yang lain.

1. Pengertian Ruang Personal
A. Menurut Sommer
Ruang personal adalah daerah disekeliling seseorang dengan batas – batas yang tidak jelas dimana seseorang tidak boleh memasukinya.

B. Goffman
menggambarkan ruang personal sebagai jarak/daerah di sekitar individu dimana jika dimasuki orang lain, menyebabkan ia akan merasa batasnya dilanggar, merasa tidak senang, dan kadang – kadang menarik diri.

Beberapa definisi ruang personal secara implicit berdasrkan hasil – hasil penelitian, antara lain :
a. Ruang personal adalah batas – batas yang tidak jelas antara seseorang dengan orang lain.
b. Ruang personal sesungguhnya berdekatan dengan diri sendiri.
c. Pengaturan ruang personal merupakan proses dinamis yang memungkinkan diri kita keluar darinya sebagai suatu perubahan situasi.
d. Ketika seseorang melanggar ruang personal orang lain, maka dapat berakibat kecemasan, stress, dan bahkan perkelahian.
e. Ruang personal berhubungan secara langsung dengan jarak – jarak antar manusia, walaupun ada tiga orientasi dari orang lain ; berhadapan, saling membelakangi dan searah.



2. Zona Interaksi Sosial
Menurut Edward T. Hall, seorang antropolog, bahwa dalam interaksi social terdapat empat zona spasial yang meliputi : jarak intim, jarak personal, jarak social, dan jarak public.
A. Jarak Intim
• Jarak yang dekat/akrab atau keakraban dengan jarak 0 – 18 inci.
• Pada jarak 0 – 6 inci, kontak fisik merupakan hal yang penting.
• Jarak yang diperuntukkan pada “intimate lovers”
• Menyenangkan ketika berinteraksi dengan orang lain yang dicintai, tidcak menyenangkan dalam situasi yang lain.

B. Jarak Pribadi
• Karakteristik keregangan yang biasa dipakai individu satu sama lain.
• Jarak antara 1,5 – 4 kaki
• Fase dekat (1,5 – 2,5 kaki) dan fase jauh (2,5 – 4 kaki)
• Fase dekat : masih memungkinkan pertukaran sentuhan, bau, pandangan, dan isyarat – isyarat lainnya.
• Fase jauh : jarak dimana masing – masing orang dapat saling menyentuh dengan mengulurkan tangan. Komunikasi halus (fine grain communication) masih dapat diamati.
• Transisi antara kontak intim dengan tingkah laku umum yang agak formal.

C. Jarak Sosial
• Jarak 4 – 12 kaki
• Jarak yang memungkinkan terjadinya kontak social yang umum, seperti hubungan bisnis.
• Fase dekat (4 – 7 kaki)
• Fase jauh (7 – 12 kaki)

D. Zona Publik
• Jarak 12 – 25 kaki
• Isyarat – isyarat komunikasi sedikit
• Situasi formal atau pembicaraan umum / orang – orang yang berstatus lebih tinggi.
Dari beberapa penjelasan di atas mengenai keadaan kereta api yang tak kunjung sepi maupun membuat kita nyaman dalam menggunakannya. Mau tidak mau kita gunakan sehari- hari untuk memulai aktifitas ke tempat yang menjadi tujuan kita, walaupun harus berdesakan untuk dapat terangkut oleh kereta tersebut.

tim penulis 3pa04

Selasa, 06 April 2010

modifikasi perilaku

NAMA tim penyusun 3PA04:
1. MIETA PURNAMASARI 10507160
2. NOVI KUSUMAWARDANI 10507165
3. MARIESYA ADALEA 10507151
4. PUTRA BAYU GUSTAMA 10507188
5. WENNY JUNILAWATI 10507252
6. MARIA CHRISNATALIA 10507151



“SHAPING, FLOODING, TOKEN EKONOMI, IN VIVO”






SHAPING

Penguatan diferensial dari aproksimasi, atau lebih sering, format adalah prosedur pengkondisian digunakan terutama dalam analisis eksperimental perilaku. Ini diperkenalkan oleh BF Skinner dengan merpati dan diperpanjang untuk anjing, lumba-lumba, manusia dan spesies lainnya. Dalam mengembangkan bentuk jawaban yang sudah ada secara bertahap berubah di antara percobaan yang berurutan ke perilaku target yang diinginkan oleh menguntungkan segmen perilaku yang benar.
Misalnya, kita memberikan makanan burung ketika sedikit ke arah tempat dari mana saja di kandang. Hal ini meningkatkan frekuensi dari jenis perilaku. Lalu kami menahan penguatan sampai membuat gerakan kecil ke arah tempat itu. Sekali lagi, ini mengubah distribusi keseluruhan perilaku tanpa menghasilkan sebuah unit baru. Kami memperkuat posisi berturut-turut ke tempat dan kemudian diperkuat hanya bila kepala bergerak sedikit ke depan dan akhirnya hanya ketika paruhnya benar-benar membuat kontak dengan tanah .... Probabilitas asli respon dalam bentuk akhirnya sangat rendah, dalam beberapa kasus bahkan mungkin nol. Dengan cara ini kita dapat membangun rumit operants tidak pernah muncul dalam khasanah tubuh lain. Memperkuat serangkaian aproksimasi, kami membawa respon biasa pada suatu kemungkinan yang sangat tinggi dalam waktu singkat .... Tindakan total berbalik menuju tempat dari setiap titik di meja, berjalan ke arahnya, mengangkat kepala dan mencolok

FLOODING

Banjir adalah teknik psikoterapi digunakan untuk mengobati fobia. Ia bekerja dengan mengekspos pasien untuk kenangan menyakitkan mereka, dengan tujuan reintegrating tertekan emosi dengan hati nurani mereka hari ini. Banjir diciptakan oleh Thomas Stampfl seorang psikolog pada tahun 1967. saat ini masih digunakan hari ini di terapi perilaku. Hal ini lebih cepat tapi kurang efisien dan metode yang lebih traumatis takut.
Contoh kasus dari pembanjiran ini seperti berkuda desensitisasi sistematis. Untuk menunjukkan irasionalitas takut, psikolog akan seseorang dalam situasi di mana mereka akan menghadapi fobia terburuk. Di bawah kondisi yang terkendali dan bukti psikologis tentang upaya untuk menggantikan ketakutan mereka dengan teknik relaksasi relaksasi. Pengalaman sering bisa traumatis bagi seseorang, tapi mungkin diperlukan jika fobia tersebut menyebabkan mereka masalah. Keuntungan dari banjir adalah bahwa umumnya efisien dan cepat. Ada, Namun, pemulihan spontan ketakutan yang mungkin terjadi. Ini dapat dibuat lebih kecil kemungkinannya dengan desensitisasi sistematis, bentuk lain dari prosedur klasik yang disediakan untuk penghapusan fobia

IN VIVO

In vivo (Latin (dengan) dalam kehidupan) berarti yang terjadi dalam sebuah organisasi. Dalam ilmu, mengacu pada percobaan in vivo dilakukan atau dalam jaringan hidup dari seluruh hidup, sebagai lawan dari sebagian atau mati. Hewan percobaan dan uji klinis adalah bentuk penelitian in vivo.
Enam elemen dari metode penelitian yang dianggap:
(a) peserta dengan diagnosis klinis,
(b) subjektif, komponen perilaku dan fisiologis respon diukur dari rasa takut,
(c) desain,
(d) masuknya dari kelompok kontrol,
(e) diikuti oleh data yang dikumpulkan, dan penelitian,
(f) kebutuhan untuk menyertakan perawatan lain dalam eksposur vivo.
Studi diperoleh melalui pencarian terkomputerisasi PsycINFO dan CISTI, penelitian ini mengungkapkan bahwa semua enam elemen metode ditinjau dari isi di ulang kembali serta membutuhkan perbaikan.

Selama terapi perilaku (pemaparan in vivo) bahwa pasien belajar menjadi kurang takut harus praktek dalam situasi ketakutan. Dalam rangka secara bertahap Menghadapi situasi menakutkan. Apakah diletakkan dalam situasi sulit karena waktu yang diperlukan untuk memungkinkan kecemasan untuk menipis. Jika kecemasan menjadi kurang, lebih takut dibuat (atau dicari) dan sebagainya.

TOKEN EKONOMI

untuk perilaku yang baik dihargai dengan token yang dapat ditukar dengan hak istimewa
Token Ekonomi merupakan suatu wujud modifikasi perilaku yang dirancang untuk meningkatkan perilaku yang diinginkan dan pengurangan perilaku yang tidak diinginkan dengan pemakaian Tokens (tanda-tanda). Individu menerima token cepat setelah mempertunjukkan perilaku yang diinginkan. Token itu dikumpulkan dan yang dipertukarkan dengan suatu obyek atau kehormatan yang penuh arti.
Secara singkatnya Token Ekonomi merupakan sebuah system reinforcement untuk perilaku yang dikelola dan diubah, seseorang mesti dihadiahi/diberikan penguatan untuk meningkatkan atau mengurangi perilaku yang diinginkan.
Contohnya: setiap pekerjaan anak yang telah kita perintahkan dan dapat di kerjakan dengan baik, di tukarkan dengan poin. Nah, poin tersebut bias sudah terkumpul dengan sesuai perjanjian kita di awal oleh anak tersebut dapat di tukarkan dengan hadiah yang dia inginkan.


SUMBER

Eko. 2008. Token Ekonomi. http://eko13.wordpress.com/
Anonym. 2010. In Vivo. mmi.tudelft.nl
Anonym. 2010. In vivo. psychology.wikia.com/wiki/In_vivo
Anonym. 2010. Flooding. http://en.wikipedia.org/wiki/Flooding
Anonim. 2010. Shaping. http://en.wikipedia.org/wiki/Shaping

shift kerja

Perusahaan PT.Argo Pantes, Tbk yang bergerah di bidang tekstil. Mreka menerapkan 4 shift dlam bekerja, shift 1 pukul 05.00- 14.00, shift 2 pukul 14.00-22.00, shift 3 pukul 22.00-05.00 serta day shif yang di mulai pukul 08.00-16.00. bagi mereka yang kena shift 1-3 yaitu mereka yang bekerja di bagian produksi kapas menjadi benang kemudian benang menjadi kain, pekerjaan tersebut tidak dapat berhenti karena jika berhenti akan terjadi kerugian yang besar bagi perusahaan itu yang memungkinkan di butuhkan shift tersebut untuk mengkontrol proses produksi tersebut. Bagi mereka yang mendapatka day shift mereka bekerja untuk mengkontrol proses produksi yang berjalan, apakah ada kerusakan dari mesin atau ada kesalahan dari perwarnaan benang tersebut.

Adapun penyakit yang dapat di timbulkan dari shift kerja tersebut adalah masuk angin yang orang awam sering bilang atau bahkan diabetes.


Sumber: pelaku pekerja di perusahaan tersebut.

Minggu, 14 Maret 2010

efek antropometri terhadap kinerja karyawan

Posisi kerja terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri. Berdiri dengan posisi yang benar, dengan tulang punggung yang lurus dan bobot badan terbagi rata pada kedua kaki. Pada posisi berdiri dengan pekerjaan ringan, tinggi optimum area kerja adalah 5-10 cm dibawah siku. Agar tinggi optimum ini dapat diterapkan, maka perlu diukur tinggi siku yaitu jarak vertikal dari lantai ke siku dengan keadaan lengan bawah mendatar dan lengan atas vertikal. Posisi berdiri dimana posisi tulang belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki dan sebaiknya berdiri tidak lebih dari 6 jam. Posisi duduk dimana kaki tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja.
Beberapa persyaratan posisi duduk/bekerja dengan duduk adalah:
- Terasa nyaman selama melaksanakan pekerjaannya.
- Tidak menimbulkan gangguan psikologis.
- Dapat melakukan pekerjaannya dengan baik dan memuaskan.

Dari sudut otot, sikap duduk yang paling baik adalah sedikit membungkuk, namun dari sudut tulang lebih baik tegak agar punggung tidak bungkuk dan otot perut tidak lemas. Untuk itu dianjurkan memiliki sikap duduk yang tegak, diselingi istirahat dengan sedikit membungkuk. Posisi duduk hendaknya memperhatikan tinggi alas duduk yakni sebaiknya dapat disetel antara 38 dan 48 cm, kursi harus stabil dan tidak goyang atau bergerak, dan kursi harus memungkinkan cukup kebebasan bagi gerakan petugas.

Semua pekerjaan hendaknya dilakukan dalam sikap duduk atau berdiri secara bergantian. Semua sikap tubuh yang tidak alami harus dihindarkan. Seandainya hal ini tidak memungkinkan, hendaknya diusahakan agar beban statik diperkecil. Tempat duduk harus dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak membebani, melainkan dapat memberikan relaksasi pada otot-otot yang sedang tidak dipakai untuk bekerja dan tidak menimbulkan penekanan pada bagian tubuh (paha). Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya gangguan sirkulasi darah dan sensibilitas pada paha, mencegah keluhan kesemutan yang dapat mengganggu aktivitas.
Dari beberapa penjelasan di atas di ketahui bahwa, setiap pekerjaan yang di lakukan sebaiknya melihat dahulu sesuai dengan orang yang akan di tempatkan atau tidak, bila tidak sesuai akan membuat orang yang di tugaskan akan merasa tidak nyaman serta mengalami keterpaksaan dalam melakukan pekerjaan yang di perintahkan, yang mengakibatkan tidak efektif kinerja si karyawan tersebut.
Efek psikologisnya karyawan tidak nyaman terhadap pekerjaannya.

Daftar Pustaka
Fahriansyah, Fika W dan Mappiwali Asrull. 2009. LAPORAN FAKTOR ERGONOMI DI LINGKUNGAN KERJA RUMAH SAKIT BERSALIN PERTIWI MAKASSAR. Makasar : Universitas Hasanudin, Fakultas Kedokteran.

Selasa, 02 Maret 2010

tugas kelompok ergonometri : antropometri dan keletihan kerja


Tim penyusun tugas ERGONOMI DASAR Kelompok I (3 pa04) : Tri rasni mia amalina, Luki viky desha, Fitri amelia, Susi rohani lumbantoruan, Tyagita manggiasih, Wenny junilawati, Putra bayu gustama, Mietha purnamasari, Maria chrisnatalia

Antropometri (dari Bahasa Yunani), dalam antropologi fisik merujuk pada pengukuran individu manusia untuk mengetahui variasi fisik manusia.

Rancangan yang mempunyai kompatibilitas tinggi dengan manusia yang memakainya sangat penting untuk mengurangi timbulnya bahaya akibat terjadinya kesalahan kerja akibat adanya kesalahan disain (Liliana dkk, 2007).

Setiap desain produk, baik produk yang sederhana maupun produk yang sangat komplek, harus berpedoman kepada antropometri pemakaiannya. Menurut Sanders & McCormick (1987), Pheasant (1988), dan Pulat (1992) bahwa antropometri adalah pengukuran dimensi tubuh atau karakteristik fisik tubuh lainnya yang relevan dengan desain tentang sesuatu yang dipakai manusia.

Kini, antropometri berperan penting dalam bidang perancangan industri, perancangan pakaian, ergonomik, dan arsitektur. Dalam bidang-bidang tersebut, data statistik tentang distribusi dimensi tubuh dari suatu populasi diperlukan untuk menghasilkan produk yang optimal. Perubahan dalam gaya kehidupan sehari-hari, nutrisi, dan komposisi etnis dari masyarakat dapat membuat perubahan dalam distribusi ukuran tubuh (misalnya dalam bentuk epidemik kegemukan), dan membuat perlunya penyesuaian berkala dari koleksi data antropometrik.

Hal-hal yang mempengaruhi dimensi antropometri manusia adalah sebagai berikut,

  • Umur

Ukuran tubuh manusia akan berkembang dari saat lahir sampai sekitar 20 tahun untuk pria dan 17 tahun untuk wanita. Ada kecenderungan berkurang setelah 60 tahun.

  • Jenis kelamin

pada umumnya memiliki dimensi tubuh yang lebih besar kecuali bagian dada dan pinggul.

  • Rumpun dan Suku Bangsa
  • Sosial ekonomi dan konsumsi gizi yang diperoleh

Kondisi ekonomi dan gizi juga berpengaruh terhadap ukuran antropometri meskipun juga bergantung pada kegiatan yang dilakukan.

  • Pekerjaan, aktivitas sehari-hari juga berpengaruh
  • Kondisi waktu pengukuran

Pengukuran antropometri pada dimensi tubuh manusia merupakan salah satu bagian dalam mewujudkan kondisi yang ergonomis. Dalam melakukan pengukuran antropometri tersebut banyak yang masih melakukannya dengan alat-alat manual seperti menggunakan jangka sorong, meteran, kursi antropometri, dll, yang tentunya akan menyebabkan adanya error dalam pengukuran yang terjadi akibat standar pembacaan ukuran yang tidak sama dan juga alat-alat yang digunakan berbeda-beda. Penelitian ini menerapkan teknologi Image Processing dengan maksud untuk mempermudah pekerjaan manusia dalam melakukan pengukuran antropometri. Selain dapat menstandarkan pengukuran yang ada juga memiliki hasil ukuran yang akurat. Pada penelitian ini dilakukan perancangan sistem digital, mulai dari hardware dan software untuk pengukuran antropometri tangan manusia. Teknologi yang coba diterapkan ini bekerja dengan mengolah gambar dari tangan. Hasil dari pengukuran digital yang dilakukan akan dibandingkan dengan hasil pengukuran manual menggunakan paired t-test. Dari penelitian yang dilakukan menghasilkan sistem yang diberi nama â€Å“HADMS†(Hand Anthropometry Digital Measurement System). Berdasarkan pengujian yang dilakukan didapatkan 14 dimensi tangan yang telah valid hasil pengukurannya dari 20 dimensi tangan. Sistem ini terbukti lebih teliti dan akurat (satuan mm) dalam pengukurannya dan memudahkan dalam melakukan pengukuran dimensi tangan tersebut.

Antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi (Jellife 1966).

Sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi. Gangguan ini biasanya terlihat dari pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh, seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh

Syarat yang Mendasari Penggunaan Antropometri

Alat mudah didapat dan digunakan

Pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan objektif

Pengukuran tidak selalu harus oleh tenaga khusus profesional, dapat oleh tenaga lain setelah mendapat pelatihan

Biaya relatif murah

Hasilnya mudah disimpulkan, memiliki cutt of point dan baku rujukan yang sudah pasti

Secara ilmiah diakui kebenarannya

Jenis Parameter Antropometri

Sebagai indikator status gizi, antropometri dapat dilakukan dengan mengukur beberapa parameter

Parameter adalah ukuran tunggal dari tubuh manusia

Jenis parameter antropometri:

1. Umur

2. Berat Badan

3. Tinggi Badan

4. Lingkar Lengan Atas

5. Lingkar Kepala

6. Lingkar Dada

7. Jaringan Lunak

Umur

Faktor umur sangat penting dalam penentuan status gizi.

Kesalahan penentuan umur >> interpretasi status gizi salah

Batasan umur yang digunakan (Puslitbang Gizi Bogor, 1980):

- Tahun umur penuh (completed year)

Contoh: 6 tahun 2 bulan, dihitung 6 tahun

5 tahun 11 bulan, dihitung 5 tahun

- Bulan usia penuh (completed month): untuk anak umur 0-2 tahun digunakan

Contoh: 3 bulan 7 hari, dihitung 3 bulan

2 bulan 26 hari, dihitung 2 bulan

Berat Badan

Merupakan ukuran antropometri terpenting dan paling sering digunakan pada bayi baru lahir (neonatus)

Digunakan untuk mendiagnosa bayi normal atau BBLR

Pada masa bayi-balita berat badan dapat dipergunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi, kecuali terdapat kelainan klinis (dehidrasi, asites, edema, atau adanya tumor). Dapat digunakan sebagai dasar perhitungan dosis obat dan makanan

Menggambarkan jumlah protein, lemak, air dan mineral pada tulang

Pada remaja, lemak cenderung meningkat dan protein otot menurun

Pada klien edema dan asites, terjadi penambahan cairan dalam tubuh

Adanya tumor dapat menurunkan jaringan lemak dan otot, khususnya terjadi pada orang kekurangan gizi

Tinggi Badan (TB)

Tinggi Badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal

Pada keadaa normal, TB tumbuh seiring dengan pertambahan umur

Pertumbuhan TB tidak seperti BB, relatif kurang sensitif pada masalah kekurangan gizi dalam waktu singkat. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap TB akan nampak dalam waktu yang relatif lama

Merupakan parameter paling penting bagi keadaan yang telah lalu dan keadaan sekarang, jika umur tidak diketahui dengan tepat

Merupakan ukuran kedua yang penting, karena dengan menghubungkan BB terhadap TB (quac stick) faktor umur dapat dikesampingkan

Alat ukur :

- Alat Pengukur Panjang Badan Bayi : untuk bayi atau anak yang belum dapat berdiri.

- Microtoise: untuk anak yang sudah dapat berdiri

Lingkar Lengan Atas

Merupakan salah satu pilihan untuk penentuan status gizi, karena mudah, murah dan cepat. Tidak memerlukan data umur yang terkadang susah diperoleh

Memberikan gambaran tentang keadaan jaringan otot dan lapisan lemak bawah kulit

Lila mencerminkan cadangan energi, sehingga dapat mencerminkan:

1. Status KEP pada balita

2. KEK pada ibu WUS dan ibu hamil: risiko bayi BBLR

Alat: suatu pita pengukur dari fiber glass atau sejenis kertas tertentu berlapis plastik.

Ambang batas (Cut of Points):

LLA WUS dengan risiko KEK di Indonesia < style="mso-tab-count:1"> Pada bayi 0-30 hari : ≥9.5 cm, Balita dengan KEP <12.5>

Lingkar Kepala

Ukuran otak meningkat secara cepat selama tahun pertama, tetapi besar lingkar kepala tidak menggambarkan

keadaan kesehatan dan gizi

Bagaimanapun ukuran otak dan lapisan tulang kepala dan tengkorak dapat bervariasi sesuai dengan keadaan gizi

Dalam antropometri gizi rasio Lika dan Lida cukup berarti dan menentukan KEP pada anak. Lika juga digunakan sebagai informasi tambahan daam pengukuran umur.

Lingkar Dada

Biasa digunakan pada anak umur 2-3 tahun, karena pertumbuhan lingkar dada pesat sampai anak berumur 3 tahun

Rasio lingkar dada dan kepala dapat digunakan sebagai indikator KEP pada balita

Pada umur 6 bulan lingkar dada dan kepala sama. Setelah umur ini lingkar kepala tumbuh lebih lambat daripada lingkar dada

Pada anak yang KEP terjadi pertumbuhan lingkar dada yang lambat → rasio lingkar dada dan kepala <>

Tinggi Lutut

Tinggi lutut erat kaitannya dengan tinggi badan, sehingga data tinggi badan didapatkan dari tinggi lutut bagi orang tidak dapat berdiri atau lansia

Pada lansia digunakan tinggi lutut karena pada lansia terjadi penurunan masa tulang >> bungkuk>> sukar untuk mendapatkan data tinggi badan akurat

Jaringan Lunak

Otot dan lemak merupakan jaringan lunak yang bervariasi

Antropometri dapat dilakukan pada jaringan tersebut untuk menilai status gizi di masyarakat

Lemak subkutan (subcutaneous fat) Penilaian komposisi tubuh termasuk untuk mendapatkan informasi mengenai jumlah dan distribusi lemak dapat dilakukan dengan beberapa metode, dari yang paling sulit hingga yang paling mudah

Metode yang digunakan untuk menilai komposisi tubuh (jumlah dan distribusi lemak sub-kutan):

1. Ultrasonik

2. Densitometri (melalui penempatan air pada densitometer atau underwater weighting)

3. Teknik Isotop Dilution

4. Metoda Radiological

5. Total Electrical Body Conduction (TOBEC)

6. Antropometri (pengukuran berbagai tebal lemak menggunakan kaliper: skin-fold calipers) Metode yang digunakan untuk menilai komposisi tubuh

(jumlah dan distribusi lemak sub-kutan):

Metode yang paling sering dan praktis digunakan di lapangan: Antropometri fisik

Standar atau jangkauan jepitan 20-40 mm2, ketelitian 0.1 mm, tekanan konstan 10 g/m2

Jenis alat yang sering digunakan Harpenden Calipers, alat ini memungkinkan jarum diputar ke titik nol apabila terlihat penyimpangan

Beberapa pengukuran tebal lemak dengan menggunakan kaliper:

1. Pengukuran triceps

2. Pengukuran bisep

3. Pengukuran suprailiak

4. Pengukuran subskapular

Kesalahan dalam Pengukuran Antropometri

Kesalahan pengukuran

Kesalahan alat

Kesalahan tenaga yang mengukur

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kesalahan pengukuran:

Memilih alat ukur yang sesuai

Membuat aturan pelaksanaan pengukuran

Pelatihan petugas

Peneraan alat ukur secara berkala

Pengukuran silang antar observer dan pengawasan (uji petik)

Ambang Batas (Cut off Points)

Dari berbagai jenis indeks antropometri diperlukan ambang batas untuk menginterpretasikannya

Ambang batas dapat disajikan dalam 3 cara:

1. Persen terhadap Median

2. Persentil

3. Standar Deviasi Unit

Bagan Produk Ergonomis Berdasar Antropometri

Efisiensi kerja merupakan salah satu pendorong utama dalam kelancaran bisnis dan manajemen. Dan ini tidak pernah terlepas dari kultur organisasi dan kultur di dalam masyarakat tertentu. Sudah menjadi pengetahuan umum (common knowledge) bahwa para pekerja Indonesia yang bekerja di dalam maupun di luar tanah air seringkali “diidentifikasikan” dengan efisiensi kerja yang rendah atau paling tidak belumlah sejajar maupun bisa menandingi rekan-rekannya yang berasal dari negara lain.

Mengapa mindset sukses sangatlah penting dalam meningkatkan efisiensi yang ujung-ujungnya bermuara kepada peningkatan produksi, revenue, dan gross domestic product (alias produktivitas nasional)? Ada beberapa alasan.

Pertama, mindset pada dasarnya adalah fondasi dari segala aktivitas dan perilaku. Jadi, dengan keyakinan mendasar bahwa diri kita adalah personifikasi dari sukses itu sendiri, maka segala bentuk perbedaan antara harapan dan kenyataan, terutama hal-hal yang menyebabkan timbulnya persepsi akan kegagalan dan kehampaan bisa dikikis dengan sendirinya.

Kedua, dengan berkaca kepada mindset ini, maka fondasi rencana-rencana kerja (planning) mempunyai dasar spirit manusiawi, sebagaimana diperkenalkan oleh Edward Deming yang dikenal dengan A System of Profound Knowledge. Sistem ini terdiri dari empat bagian: apresiasi sistem, pemahaman akan variasi, epistemologi (teori pengetahuan), dan pemahaman akan psikologi.

Dari keempat bagian tersebut, pemahaman akan psikologi merupakan dasar dari kesuksesan yang bersumber dari dalam (internal source) dan ini merupakan landasan yang paling jitu dalam segala bidang. Dimulai dengan prinsip “the right person for the right job at the right job” banyak perusahaan raksasa di Seberang yang bisa semakin meningkatkan mindset sukses mereka. Google adalah salah satu contohnya. Dengan prinsip berbisnis yang beretika tinggi, selalu berpikir out of the box, dan menggulirkan teknologi yang sudah ada di tangan dengan kreatifitas tinggi.

Untuk bisa menjalankan prinsip ini dan membawa mindset sukses ke tingkat yang lebih tinggi, sudah jelas Google sangatlah pemilih dalam proses perekrutan. Mereka tidak hanya menilai seorang kandidat dari segi intelektual dan interpersonal saja, namun terutama dari segi “masuk atau tidaknya” gaya kerja dan tingkat kreatifitas. Ini sangat riil dari sudut pandang mempertahankan mindset sukses di dalam sebuah insitusi.

efisiensi kerja bisa ditingkatkan dengan mindset sukses. Ini bukan mitos, sudah terbukti dengan perusahaan-perusahaan meraksasa yang telah berhasil mengubah dunia. Tanpa mindset ini, mustahil bisa mempertahankan pencapaian, atau bahkan memulai sesuatu.

Keletihan dapat juga didefinisikan sebagai kondisi menurunnya kemampuan untuk melakukan pekerjaan fisik dan mental. Dalam satu segi, perasaan letih adalah suatu mekanisme pelindung yang bekerja dengan memberikan amaran untuk mencegah berkelanjutannya satu kegiatan yang dapat merusak tubuh.

Pada dasarnya ada dua jenis perasaan letih. Yang pertama diakibatkan oleh otot-otot tubuh yang berkerja keras dalam jangka waktu yang lama. Kedua, yang dihasilkan oleh kegiatan mental yang disertai stres. Kita dapat melihat kedua jenis keletihan ini di masyarakat sehari-hari. Para buruh pekerja yang mengandalkan ototnya untuk mencari nafkah, akan pulang merasa letih lalu tidur dan tubuhnya terasa rileks. Keletihan ini disebut penat hipotonik.
( Albert M. Hutapea, 2009)

Burnout adalah kekelahan mental dan emocional yang bersifat kronis dan timbal sebagai akibat adanya stress yang berkembang secara akumulatif dalam jangka panjang terkait beban pekerjaan. Burnout pada tumbal sebagai keluhan fisik seperti nyeri kepala atau keletihan syaraf (restlessness)
Tips mengatasi Restlessness :
1.jangan melampaui batas tingkat kelelahan yang kita miliki
2.bangunlah sikap kerja yang efisien
3.kembangkanlah seni relaksasi
4.belajar mengendalikan emosi
5.buanglah rasa ketakutan
6.aturlah diet
7.lakukan pemeriksaan kesehatan secara periodik
8.biasakanlah memperhatikan kesehatan mental

Kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat. Istilah kelelahan biasanya menunjukkan kondisi yang berbeda-beda dari setiap individu, tetapi semuanya bermuara kepada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas kerja serta ketahanan tubuh.

Terdapat dua jenis kelelahan, yaitu kelelahan otot dan kelelahan umum. Kelelahan otot merupakan tremor pada otot atau perasaan nyeri pada otot, sedangkan kelelahan umum ditandai dengan berkurangnya kemauan untuk bekerja yang disebabkan oleh monotoni (pekerjaan yang sifatnya monoton), intensitas dan lamanya kerja fisik, keadaan lingkungan, kondisi mental dan psikologis, status kesehatan, dan gizi. Pengaruh-pengaruh tersebut terakumulasi di dalam tubuh manusia dan menimbulkan perasaan lelah yang dapat menyebabkan seseorang berhenti bekerja (beraktivitas). Kelelahan dapat diatasi dengan beristirahat untuk menyegarkan tubuh. Apabila kelelahan tidak segera diatasi dan pekerja dipakasa untuk terus bekerja, maka kelelahan akan semakin parah dan dapat mengurangi produktivitas pekerja. Kelelahan sama halnya dengan keadaan lapar dan haus sebagai suatu mekanisme untuk mendukung kehidupan.

Di samping kelelahan otot dan kelelahan umum, Grandjean (1988) juga mengklasifikasikan kelelahan ke dalam 7 bagian yaitu:

1. Kelelahan visual, yaitu meningkatnya kelelahan mata

2. Kelelahan tubuh secara umum, yaitu kelelahan akibat beban fisik yang berlebihan

3. Kelelahan mental, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh pekerjaan mental atau intelektual

4. Kelelahan syaraf, yaitu kelelahan yang disebabkan oleh tekanan berlebihan pada salah satu bagian sistem psikomotor, seperti pada pekerjaan yang membutuhkan keterampilan

5. Pekerjaan yang bersifat monoton

6. Kelelahan kronis, yaitu kelelahan akibat akumulasi efek jangka panjang

7. Kelelahan sirkadian, yaitu bagian dari ritme siang-malam, dan memulai periode tidur yang baru

Pengukuran Kelelahan

Sampai saat ini belum ada cara untuk mengukur tingkat kelelahan secara langsung. Pengukuran-pengukuran yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya hanya berupa indikator yang menunjukkan terjadinya kelelahan akibat kerja. Grandjean (1993) dalam Tarwaka et al (2004) mengelompokkan metode pengukuran kelelahan dalam beberapa kelompok, yaitu:

1. Kualitas dan kuantitas kerja yang dilakukan

2. Uji psikomotor

3. Uji hilangnya kelipan (flicker-fusion test)

4. Perasaan kelelahan secara subjektif

5. Uji mental

Kejenuhan kerja tidak berpengaruh negatif pada pekerja yang mengalaminya, tetapi seorang pemimpin tetap harus mengatasi hal tersebut serta menggantinya dengan pekerja lainnya karena secara tidak langsung telah mempengaruhi waktu dan uang.

Kejenuhan kerja banyak dialami pekerja dalam bidang medis, karena mereka banyak menangani masalah yang berhubungan dengan kematian dan kehidupan setiap harinya yang cenderung membuat mereka sering merasa cemas dan takut.

Beberapa dari mereka bahkan harus bekerja dalam waktu lama dan mengganti pegawai lainnya, sehingga Kejenuhan kerja dalam pelayanan kesehatan mempunyai akibat yang berbahaya.

Kebebasan tenaga kerja komponen adalah ukuran kuantitatif yang terlihat dalam berbagai aspek dari kerangka hukum dan peraturan dari negara pasar tenaga kerja. Ini menyediakan cross-country data pada peraturan mengenai upah minimum; hukum menghambat PHK; pesangon persyaratan dan peraturan diukur beban pada mempekerjakan, jam, dan seterusnya.

Enam faktor kuantitatif sama-sama berbobot, dengan masing-masing dihitung sebagai satu-keenam dari kebebasan tenaga kerja komponen:

  • Rasio upah minimum rata-rata nilai tambah per pekerja,
  • Halangan untuk mempekerjakan pekerja tambahan,
  • Kekakuan jam,
  • Sulitnya memecat karyawan berlebihan,
  • pemberitahuan dimandatkan secara hukum, dan
  • Pesangon wajib.

Berdasarkan data dari Bank Dunia Doing Business kajian, faktor-faktor ini secara khusus memeriksa peraturan tenaga kerja yang mempengaruhi "dan redundansi yang mempekerjakan pekerja dan kekakuan jam kerja."

Kebosanan Kerja

Kebosanan kerja bisa terjadi bukan saja pada pekerja di tingkat bawah tetapi juga bisa terjadi pada pekerja tingkat atas. Oleh karena itu banyak perusahaan yang melakukan berbagai pencegahan dengan cara rotasi kerja, melibatkan pekerja dalam mengambil keputusan, memberikan kesempatan untuk melakukan cuti, dan lainnya.

Beberapa alasan mengapa bisa terjadi kebosanan kerja dapat dibagi dalam beberapa penyebab, yaitu:
a. Jika kerjaan menjadi rutinitas yang membosankan
Otak manusia membutuhkan stimulasi dan tantangan terus-menerus. Artinya dalam konteks kerja
manusia cenderung membutuhkan tugas-tugas baru yang menantang atau menarik. Jika stimulasi atau tantangan baru tersebut tidak ada dan otak hanya mengulangi apa yang telah dikuasai maka tugas atau pekerjaan yang telah dikuasai tersebut menjadi tidak menarik sehingga timbul kebosanan. Selain itu pekerjaan yang dianggap terlalu mudah atau tidak sesuai dengan tingkatan pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki oleh seseorang juga cenderung membuat bosan.
b. Keharusan memilki kewenangan sendiri
Dalam bekerja hampir setiap individu mendambakan unuk dapat bekerja dengan otonomi yang luas,
memiliki tanggungjawab dan terlibat dalam pembuatan keputusan yang menyangkut dirinya. Jika hal hal seperti ini tidak didapat oleh pekerja selama melakukan aktivitas kerjanya maka kemungkinan untuk menjadi bosan akan sangat terbuka.
c. Makna kerja
Meski telah memiliki pekerjaan yang menantang, otonomi yang luas, seseorang akan tetap bisa
menjadi bosan jika tidak merasa bahwa bekerja adalah sesuatu yang berharga bagi hidupnya. Untuk bisa bertahan dan menyenangi pekerjaan, seseorang harus bisa menjawab pertannyaan mengapa ia harus bekerja.
d. Tatkala kebosanan melekat di diri kita
Dalam kehidupan ini banyak sekali individu yang justru merasa bosan karena tidak lagi memiliki
kesempatan untuk melakukan tugas-tugas tertentu karena sudah dikerjakan orang lain. Ada banyak manager yang akhirnya tidak bertahan di suatu perusahaan meski menyandang jabatan sangat tinggi karena ia merasa tidak dapat berbuat apa-apa. Jadi dalam hal ini datang ke kantor dan duduk-duduk saja sambil memberi perintah belum tentu akan membuat seseorang tidak mengalami kebosanan.
e. Keharusan menyingkirkan kebosanan.
Kebosanan kerja bukan saja memberikan dampak yang negatif bagi kinerja individu dalam perusahaan tetapi juga dapat menyebabkan berbagai dampak psikologis misalnya timbul rasa hampa dalam diri individu, meragukan kemampuan diri sendiri, dan sebagainya.

Daftar Pustaka

Anonim. 2003. Mengatasi Kejenuhan Kerja. http://www.kapanlagi.com/

Hutapea ,Albert M. 2009 . Letih. http://www.bogorsda.org/

Anonim.2008. Kelelahan Kerja. http://nonameface.wordpress.com/

Multazam, Isa. 2007. Burnout – Kelelahan Kerja. http://isa-multazam.blogspot.com/

Embuwono. 2008. Mindset- Efisiensi Kerja Bukanlah Mitos. http://embuwono.wordpress.com/

Anonim. 2010. Labor Freedom. http://www.heritage.org/

Shelmi. 2009. Kebosanan Kerja. http://shelmi.wordpress.com/